Sunday, October 22, 2017

Majapahit_Kerajaan Maritim Bercorak Hindu


Dengan kekalahan Kediri, karena serangan R. Wijaya dan tentara Cina, maka kondisi politik mengalami perubahan kekuasaan. Majapahit muncul menggantikan peranan tersebut. Sumber sejarah Majapahit dapat diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya:
a. Prasasti Butak (1294 M) yang memuat peristiwa runtuhnya Singasari dan perjuangan R.   Wijaya untuk mendirikan kerajaan.
b. Kidung Harsawijaya dan kidung Panji Wijayakrama memuat awal perkembangan Majapahit. 
c. Kitab Pararaton dan kitab Negarakrtagama


Kerajaan Majapahit terletak di daerah Mojokerto/ Trowulan. Kerajaan ini terbesar di Indonesia dan mampu menciptakan perubahan besar dalam waktu relatif singkat. 

Perkembangan kerajaan Majapahit baik secara ekonomi, politik, keagamaan maupun kebudayaan dapat dilihat dari masa pemerintahan raja yang berkuasa.

a. R. Wijaya (1293-1309)
R. Wijaya naik tahta dengan gelar Sanggramawijaya Kertarajasa Jayawardhana. Dalam rangka memperkuat kedudukan sebagai raja, R. Wijaya mengadakan usaha:
   1) Menikahi keempat putri Kertanegara (Tribhuana, Duhita, Prajnjaparamitha dan Gayatri) yang dimaksudkan untuk mencegah terjadinya perebutan kekuasaan antar anggota keluarga raja.
   2) Memberi balas jasa bagi pengikut dan rakyat.
Selama masa pemerintahan R. Wijaya, kehidupan kerajaan berlangsung aman dan tenteram. Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu tiga menteri yaitu I Hino, I Halu dan I Sirikan. Pada tahun 1309 R. Wijaya wafat dan dimakamkan di Sumberjati sebagai Syiwa dan sebagai Budha di Antahpura (kota Majapahit).

b. Jayanegara (1309-1328)
Jayanegara naik tahta menggantikan R. Wijaya. Pada masa pemerintahannya banyak terjadi pemberontakan. Hal ini disebabkan kepemimpinan yang kurang bijaksana. Pemberontakan tersebut adalah Ranggalawe (1309), Lembu Sora (1311), Juru Demung (1313), Gajah Biru (1314), Nambi (1316), Lasem dan Semi (13180 dan pemberontakan paling berbahaya yaitu Kuti (1319). Dari pemberontakan Kuti, Jayanegara terpaksa menyingkir ke luar kota dan muncul peran Gajah Mada dengan pasukan pengawal Bhayangkari. Tahun 1328, Jayanegara meninggal dunia akibat dibunuh Tanca (tabib istana).

c. Tribhuwanatunggadewi (1328-1350)
Karena Jayanegara meninggal tanpa putra, maka diganti Tribhuwanatunggadewi. Pada masa pemerintahannya, muncul pemberontakan Sadeng (1331) yang dapat dipadamkan Gajah Mada. Gajah Mada diangkat sebagai patih Daha dan selanjutnya naik menjadi mahapatih Majapahit. Saat dilantik sebagai mahapatih, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa yaitu berusaha mempersatukan nusantara dibawah panji Majapahit. Usaha untuk mewujudkannya dilakukan selama kurun waktu tahun 1334-1357. Pengabdian Gajahmada terungkap dalam konsep :
   1) Satya bhakti aprabhu, yaitu setia dan bakti kepada negara dan mahkota
   2) Tan satresna, yaitu tidak pernah memikirkan kepentingan diri pribadi dan balas jasa
   3) Hanayaken musuh, yaitu menghalau dan memusnahkan setiap musuh negara dan mahkota.
   4) Prabu ginung pratidina, yaitu mengagungkan nama raja dan negara setiap waktu.

d. Hayam Wuruk (1350-1389)
Pada tahun 1350, Tribhuwana wafat dan digantikan putranya Hayam Wuruk dengan gelar Sri Rajasanegara. Selama masa pemerintahannya merupakan jaman kebesaran Majapahit. Berdasarkan sumber Negarakrtagama, wilayah Majapahit sangat luas, bahkan lebih luas dibandingkan dengan wilayah RI sekarang. Dengan negara lain dilakukan politik mitreka satata (persahabatan yang kekal dan sederajat). Bandingkan dengan sistem politik luar negeri RI !

Di bidang pemerintahan disusun beberapa lembaga negara, yaitu:
1) Raja
2) Dewan Saptaprabhu yaitu keluarga raja yang bertugas mengurusi keluarga raja, pergantian raja dan kebijaksanaan negara.
3) Panca ri ng Wilwatikta yaitu dewan lima menteri yang bertugas mengurusi tata negara dan angkatan perang. Istilah lainnya yaitu rakryan mantri pakiran kiran sebagai badan pelaksana pemerintahan (rakryan mahapatih, rakryan demung, rakryan tumenggung, rakryan rangga dan rakryan kanuruhan).
4) Mahamantri katrini yaitu tiga menteri sebagai pelaksana kebijaksanaan raja (I Hino, I Halu dan I Sirikan).
5) Dharmadhyaksa yaitu mengurusi agama dan hal yang sakral, terdiri dari 5 orang (Syiwa) dan 2 orang (Budhis).
6) Adhyaksa yaitu badan yang mengurusi peradilan dengan kitab hukumnya Kutaramanawa.
Pejabat Dharmadhyaksa dalam menjalankan tugasnya dibantu tujuh dharma upapatti yaitu Sang Pamget I Tirwan, I Kandamuhi, I Manghuri, I Pawatan, I Jambi, I Kandangan Rare dan I Kandangan Atuha. Selain sebagai pejabat keagamaan, juga berperan sebagai cendekiawan.

No comments:

Post a Comment