Showing posts with label USBN. Show all posts
Showing posts with label USBN. Show all posts

Monday, February 6, 2017

Pembabakan Sejarah Masa Praaksara di Indonesia

Pada ribuan tahun yang lalu, kondisi alam Indonesia berbeda dibanding dengan masa sekarang. Memasuki kala pleistosen, secara umum kondisi alam sudah stabil, kecuali Indonesia bagian timur. Selama kala pleistosen berlangsung jaman es (Glasial), dimana es di kutub sering meluas. Hal ini berarti daratan di bumi mencapai wilayah yang paling luas. Jaman es terjadi empat kali yaitu Gunz, Mindel, Risz dan Wurm. Sedangkan jaman interglasial terjadi sebanyak tiga kali. Jaman interglasial merupakan jaman diantara dua jaman es, dimana es di kutub yang mencair menyebabkan sebagian besar permukaan bumi diliputi perairan.

Jaman es timbul karena suhu bumi tidak tetap. Suhu yang turun mendadak membawa akibat permukaan es meluas, sehingga bagian barat Indonesia bersatu dengan Asia. Sedangkan bagian timur bersatu dengan Australia. Sebaliknya jika suhu naik, es akan mencair yang berakibat daratan penghubung tenggelam dan terbentuk paparan Sahul dan paparan Sunda. Perubahan geografis ini akan mempengaruhi perkembangan flora dan fauna di wilayah Indonesia. Adapun perubahan bentuk kepulauan Indonesia disebabkan oleh gerakan pengangkatan, kegiatan gunung berapi dan turunnya permukaan air laut pada masa glasial.

Monday, January 30, 2017

Ciri Manusia Praaksara di Indonesia

Berdasarkan penelitian hasil temuan peninggalan sejarah yang berupa fosil (tulang manusia, hewan dan tumbuhan) maupun artefak (peralatan hidup) yang telah membatu, ternyata dapat diketahui bahwa di Jawa pernah hidup berbagai jenis manusia sejarah awal. Fosil manusia yang ditemukan berupa tengkorak, tulang paha, tulang kaki, dan rahang. Dengan merekonstruksi fosil tersebut, maka para ahli berusaha menganalisis bentuk fisik dan tingkat budaya saat itu.

Fosil manusia yang ditemukan pada jaman pleistosen terdapat di berbagai tempat di dunia. Di Indonesia sebagian besar baru ditemukan di Jawa. Indonesia, dalam hal ini Jawa menduduki posisi penting dalam perkembangan paleoantropologi, dimana banyak ditemukan fosil dari segala jaman pleistosen. Oleh karena itu nampak sekali perkembangan biologis manusia tersebut. 

Kehidupan Manusia Praaksara_Jaman Paleolithikum di Indonesia

Pada masa paleolithikum atau jaman batu tua berlangsung cukup lama. Jaman batu tua bercirikan kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering). Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia hidup mengembara. Pengalaman yang diperoleh mendorong berkembangnya cara berpikir meskipun sangat lambat. Manusia mulai menggunakan alat sederhana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemampuan manusia yang masih terbatas nampak dalam pemanfaatan bahan yang disediakan oleh alam yaitu batu, kayu dan tulang. Tujuan utama pembuatan alat sekedar untuk mempermudah upaya memperoleh bahan makanan. 

Tradisi peralatan hidup pada jaman ini dikenal perkakas batu dengan tradisi kapak perimbas dan tradisi serpih. Adapun teknologi pembuatannya, berupa tradisi batu inti dan tradisi alat serpih. Tradisi batu inti dilakukan dengan cara pemangkasan pada segumpal batu atau kerakal untuk memperoleh asatu bentuk alat, misal kapak perimbas, kapak genggam. Sedangkan tradisi alat serpih berupa alat batu yang dibuat dari serpihan atau pecahan batu. Teknologi ini berkembang sejak pleistosen tengah. Sedangkan pada pleistosen akhir diketahui pembuatan alat dari tulang dan tanduk. Peralatan hidup yang dihasilkan dapat dibedakan atas :

Sunday, January 29, 2017

Kebudayaan Neolithikum di Indonesia_Masa Praaksara

Setelah berkembang budaya mesolithikum, sekitar tahun 4000 SM berlangsung penyebaran bangsa yang membawa kebudayaan neolithikum. Pangkal penyebaran kebudayaan ini dari daerah Yunan (Asia daratan), melalui 2 jalur : jurusan Barat melalui Malaya – Sumatra – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi. Alat yang dikembangkan adalah kapak yang berbentuk persegi dan sudah dihaluskan. Oleh karena itu ciri kebudayaan ini disebut kebudayaan kapak persegi. Sedangkan jurusan Utara melalui Jepang – Philipina – Sulawesi dan Irian. Bentuk alat budaya berupa kapak lonjong yang sudah dihaluskan, sehingga kebudayaan ini dinamakan kebudayaan kapak lonjong. Baik penyebaran jalan Barat maupun Utara, merupakan pangkal nenek moyang bangsa Indonesia (lihat Soekmono.1986. Pengantar Sejarah Kebudayaan Jilid 1). Dengan demikian kebudayaan neolithikum merupakan kebudayaan yang tersebar di  seluruh kepulauan Indonesia. 

Tingkat budaya masyarakat yang makin tinggi nampak dari berkembangnya masa bercocok tanam yang ditandai kemampuan mengupam dan pembuatan gerabah. Peralatan hidup yang dihasilkan berupa beliung, kapak bahu, mata panah dan mata tombak. Selain itu juga alat obsidian dan mata panah sebagai alat berburu dan alat pemukul kulit kayu. Adapun kebudayaan neolithikum meliputi :

Perkembangan Jaman Logam di Indonesia_Masa Praaksara

Budaya logam yang berkembang di Indonesia memunculkan masyarakat pertukangan. Sejalan dengan meningkatnya kemampuan melebur biji besi dan pembuatan alat dari logam, menimbulkan pembagian kerja. Pembagian kerja untuk melaksanakan berbagai kegiatan hidup yang makin ketat. Kehidupan desa makin berkembang, kehidupan meningkat dan pelayaran perdagangan lebih maju.

Kehidupan pada masa perundagian sangat penting artinya dalam perkembangan sejarah Indonesia. Pada masa tersebut terjalin hubungan dengan daerah di sekitar kepulauan Indonesia. Hubungan dilakukan karena bahan pembuatan alat hanya tersedia di daerah tertentu dan untuk memperolehnya dilakukan dengan sistem barter.

Adapun jenis manusia yang mendiami Indonesia pada jaman perundagian dapat diketahui dari penemuan kerangka manusia di Anyer Lor, Puger (Banyuwangi), Gilimanuk dan Melolo. Di daerah Anyer Lor menunjukkan manusia Austromelanesoid, Gilimanuk memperlihatkan manusia Austromelanesoid tetapi ciri manusia Mongoloid lebih nampak. Sedangkan di Melolo lebih menunjukkan unsur Mongoloid dengan tengkorak bundar dan muka datar. Dengan demikian di Melolo terjadi percampuran ras Austromelanesoid dan Mongoloid.

Terbentuknya Jaringan Pelayaran Perdagangan Masa Hindu Buddha di Indonesia

Wilayah Indonesia sebagaimana kita ketahui berupa kepulauan, antar daerah dihubungkan dengan laut. Laut tidak dianggap sebagai batas pemisah, namun dikembangkan menjadi sarana untuk melakukan mobilitas dan aktivitas antar daerah.

Pentingnya peran laut, nampak dari munculnya ibukota kerajaan bercorak Hindu Buddha yang pada umumnya ada di daerah pantai. Pusat integrasi (baca kerajaan) yang ada di Indonesia berlangsung melalui penguasaan/ hegemoni laut. Kehidupan kerajaan yang muncul, ditentukan oleh kemampuan dan kepedulian terhadap laut. Hal ini memunculkan perkembangan baru yang meliputi :
1.   Pertumbuhan jalur perdagangan yang melalui titik strategis di sepanjang pantai
2. Kemampuan mengendalikan / kontrol politik dan militer penguasa tradisional (raja) dalam menguasai jalur utama dan pusat perdagangan di nusantara. 
Dengan demikian prasyarat untuk dapat menguasai jalur dan pusat perdagangan ditentukan oleh perhatian/ cara pandang dan kemampuan menguasai lautan.

Jika pada masa praaksara hegemoni budaya dominan datang dari pendukung budaya Austronesia dari Asia Tenggara Daratan. Pada masa perkembangan Hindhu-Budha di Nusantara terdapat dua kekuatan peradaban besar, yaitu Cina di utara dan India di bagian barat daya. Kedua kebudayaan ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi penduduk di Kepulauan Indonesia. Peralihan rute perdagangan dunia ini telah membawa berkah tersendiri bagi masyarakat dan suku bangsa di Nusantara.  Mereka secaara langsung terintegrasikan ke dalam jalinan perdagangan dunia pada masa itu. Selat Malaka manjadi penting sebagai pintu gerbang yang menghubungkan antar pedagang-pedagang Cina dan pedagang-pedagang India. 

Pada masa itu Selat Malaka merupakan jalur penting dalam pelayaran dan perdagangan bagi pedagang yang melintasi bandar-bandar penting  di sekitar Samudera Indonesia dan Teluk Persia. Selat itu merupakan jalan laut yang menghubungkan Arab dan India di sebelah di sebelah barat laut Nusantara, dan dengan Cina di sebelah timur laut Nusantara. Jalur ini merupakan pintu gerbang pelayaran yang dikenal dengan nama“Jalur Sutra”. Penamaan ini digunakan sejak abad ke-1 hingga ke-16 M, dengan komoditas kain sutera yang dibawa dari Cina untuk diperdagangkan di Wilayah lain. Ramainya rute pelayaran ini mendorong timbulnya bandar-bandar penting di sekitar jalur, antara lain Samudera Pasai, Malaka, dan Kota Cina (Sumatra Utara sekarang).

Seiring dengan kian terbukanya jalur niaga Selat Malaka dengan perdagangan dunia internasional, jaringan perdagangan antarbangsa dan penduduk di Kepulauan Indonesia juga berkembang pesat selama Hindhu-Budha. Jaringan dagang dan jaringan budaya antar kepulauan di Indonesia itu terutama terhubungkan oleh jaringan laut Jawa hingga kepulauan Maluku. Mereka secara tidak langsung juga terintegrasikan dengan jaringan ekonomi dunia yang berpusat di sekitar Malaka, dan sebagian di pantai barat Sumatra seperti Barus. Komoditas penting yang menjadi barang perdagangan pada masa itu adalah rempah-rempah, seperti kayu manis, cengkeh, dan pala.  

Pertumbuhan jaringan dagang internasional dan antar pulau telah melahirkan kekuatan politik baru di Nusantara. Peta politik di Jawa dan Sumatra abad ke-7, seperti ditunjukan oleh D.D.E. Hall, bersumber dari catatan pengunjung Cina yang datang ke Sumatra. Dua negara di Sumatra disebutkan, Mo-lo-yeo (Melayu) di pantai timur, tepatnya di Jambi sekarang di muara Sungai Batanghari.  Agak ke selatan dari itu terdapat  Che-li-fo-che, pengucapan cara Cina untuk kata bahasa sansekerta, Criwijaya. Di Jawa terdapat Tarumanegara, dengan rajanya Purnawarman, di Jawa bagian tengah ada Ho-ling (kalingga), dan di Jawa bagian timur ada Singhasari dan Majapahit.

Selama periode Hindhu-Budha, kekuatan besar Nusantara yang memiliki kekuatan integrai secara politik, sejauh ini dihubungkan dengan kebesaran kerajaan Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit. Kekuatan integrasi secara politik di sini maksudnya adalah kemampuan kerajaan-kerajaan tradisional tersebut dalam menguasai wilayah-wilayah yang luas di Nusantara di bawah kontrol politik secara longgar dan menempatkan wilayah kekuasaannya itu sebagai kesatuan-kesatuan politik bawah pengawasan dari kerajaan-kerajaan tersebut. Dengan demikian pengintegrasian antarpulau secara lambat laun mulai terbentuk.

Jika kita menelusuri kembali kehidupan kerajaan bercorak Hindu Buddha, jalur perdagangan yang berkembang di Indonesia, sangat ditentukan oleh kepentingan ekonomi pada saat itu. Perkembangan jalur/ rute perdagangan dalam setiap jaman adalah berlainan. Pada masa Hindu Buddha di Indonesia, terdapat dua kekuatan besar yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, yaitu China/ Tiongkok dan India. 

Sejarah hubungan Indonesia dengan Cina telah dimulai sejak jaman dulu. Hal ini didukung adanya bukti nekara yang ditemukan di Sangen. Pada nekara tersebut terdapat gambar orang menunggang kuda dengan pakaian Tartar. Orang Indonesia aktif datang ke Cina atau sebaliknya nampak jelas setelah abad pertama Masehi. 

Faktor ekonomi perdagangan yang ditopang teknik pelayaran menjadi pendorong utama kedatangan bangsa Cina ke Asia Tenggara (Indonesia). Berdasarkan catatan Cina, pemukiman Cina telah dijumpai di pantai utara Jawa pada 300 tahun sebelum Masehi. Dalam perkembangan berikutnya, muncul catatan lain dari abad 2 sebelum Masehi dan abad XI Masehi. Kedatangan bangsa Cina dalam jumlah besar ke nusantara berlangsung pada abad IX Masehi. Dari sumber sejenis pula dapat diketahui kesejarahan kerajaan bercorak Hindu Buddha di Indonesia. Namun demikian, faktor perdagangan tetap menjadi tujuan utama, sehingga kedatangan bangsa Cina tidak diikuti dengan penyebaran agama atau kepercayaan kepada masyarakat Indonesia. Adapun pengaruh dalam aspek budaya baru nampak jelas sejak masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia.

Pada permulaan abad pertama atau kedua Masehi, telah terdapat tanda-tanda hubungan Indonesia – India. Seperti dikemukakan G. Coedes, orang India datang ke Asia Tenggara/ Indonesia untuk keperluan istana dan kaum bangsawan.

Awal Masa Pendudukan Jepang di Indonesia

Mempelajari masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) semakin lama semakin menambah rasa keingintahuan kita. Suatu masa yang cukup singkat, namun banyak berpengaruh terhadap keberlanjutan bangsa Indonesia di masa berikutnya.

Pada awal masa pendudukan, untuk sementara Jepang mempertahankan organisasi pemerintahan apa adanya. Aparat pemerintahan dipertahankan, kecuali pimpinannya harus orang Jepang. Orang Belanda dibiarkan memegang jabatan asal tidak menyangkut urusan politik militer. Hal ini berlangsung untuk sementara, dimana setelah Jepang memiliki pengetahuan dan pegawai yang cukup, maka orang Belanda dimasukkan kamp interniran. Orang Cina tidak ditangkap karena memiliki perusahaan besar. Lagu Indonesia Raya boleh dinyanyikan dan bendera Merah Putih boleh dikibarkan. 

Sejak bulan Maret 1942, pendudukan Jepang mengeluarkan larangan kegiatan pembicaraan, pergerakan tentang negara. Pada bulan April 1942, dilakukan pembukaan kembali sekolah dengan bahasa Melayu atau bahasa daerah sebagai pengantar. Disamping itu untuk menghilangkan pengaruh Belanda/ Eropa diupayakan mengubah nama daerah dengan istilah  Belanda menjadi berbahasa Indonesia (Batavia menjadi Jakarta; Meester Cornelis menjadi Jatinegara, Buitenzorg menjadi Bogor).

Wednesday, January 25, 2017

Kebijakan Pemerintahan Pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia

Kebijakan pemerintah pendudukan Jepang bertolak pada tujuan utama yaitu menyusun dan mengarahkan kembali perekonomian Indonesia dalam menopang upaya perang Jepang dan rencana bagi dominasi ekonomi jangka panjang terhadap Asia timur dan tenggara. Adapun prioritas kebijakan Jepang terhadap Indonesia ialah:
1. Menghapuskan pengaruh Barat
2. Memobilisasikan rakyat Indonesia demi kemenangan Jepang

Usaha-usaha pemerintah pendudukan Jepang meliputi:
1. Melarang pemakaian bahasa Belanda dan bahasa Inggris dan memajukan pemakaian bahasa Jepang.
2. Memperkenalkan penggunaan kalender Jepang.
3. Melarang semua kegiatan politik dan membubarkan semua perkumpulan yang ada.

1. Kebijakan politik pemerintah Jepang pada awal masa pendudukan

Masa pendudukan Jepang selama 3,5 tahun merupakan suatu periode yang paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Pada saat Jepang menyerah, telah berlangsung perubahan luar biasa yang memungkinkan terjadinya revolusi Indonesia. 

Mobilisasi Rakyat Indonesia dan Dampak Pendudukan Jepang

Masa pendudukan Jepang di Indonesia merupakan periode yang sangat penting, utamanya meninggalkan catatan yang  negatif. Dalam kesempatan ini, saya mencoba membuat deskripsi mengenai mobilisasi rakyat dan dampak yang ditimbulkan.

Seperti diketahui, pendudukan Jepang atas Indonesia (1942-1945) didasarkan pada dua prioritas : menghapuskan pengaruh bangsa barat dan memobilisasi rakyat untuk membantu Jepang menghadapi Jepang Asia Timur Raya. Sebagai realisasi prioritas tersebut maka dilakukan upaya berikut :

1. Pengerahan ekonomi
Asia Tenggara, khususnya Indonesia memegang peran penting bagi pendudukan Jepang untuk menopang kebutuhan industri dan keperluan perang. Dari Indonesia diperlukan minyak dan karet. Indonesia dijadikan home front (daerah belakang) dengan fungsi mencukupi keperluan perang Jepang. Dengan slogan Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya, Jepang berusaha mengeksploitasi sosial ekonomi Indonesia demi kemenangan perang. 

Wilayah Indonesia dibagi atas tiga daerah ekonomi. Jawa dibagi atas 17 lingkungan daerah ekonomi. Setiap daerah diharuskan dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan menopang kebutuhan perang Jepang (sistem autarchi). Melalui organisasi Tonarigumi dan Nogyo Kumiai dilakukan kampanye pengerahan barang dan pangan. Pengerahan dan eksploitasi sumber alam, penebangan hutan dan penyerahan hasil bumi menimbulkan dampak luas bagi rakyat Indonesia. Perdagangan antar daerah dilarang pemerintah pendudukan. Pengendalian harga barang dilakukan dengan ketat. Penduduk yang tertangkap melanggar ketentuan akan diproses oleh Kempetai (polisi militer Jepang). 

Teori Masuknya Agama dan Budaya Islam di Indonesia

Menganalisis tentang masuknya Islam di Indonesia sangat menarik, dimana muncul beberapa pendapat dari pada ahli. Kedatangan Islam di berbagai daerah di Indonesia ternyata tidak bersamaan waktunya. Sedangkan pendapat para ahli masih berlainan, baik Islam sebagai agama maupun arus kebudayaan yang ditinjau dari asal maupun waktunya. Adapun pendapat tersebut meliputi: 

a. Snouck Hurgronje dan JP. Moquette
Menurut pendapat mereka, Islam masuk ke Indonesia memalui Gujarat, India. Hal ini didasarkan pada batu nisan yang dijumpai di nusantara, misal batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik dan batu nisan makam sultan Malik as Saleh di Pasai. Di kedua contoh tersebut memiliki bentuk yang sama dengan batu nisan di Cambay, India.

b. Soetjipto Wirjosoeparto
Menurut Soetjipto W, Islam masuk ke Indonesia melalui Gujarat, India. Hal ini diperkuat bukti bahwa salah satu nisan makam raja Islam di Sumatra (sultan Malik as Saleh) berasal dari Gujarat.

c. Hoesein Djajadiningrat
Islam masuk ke Indonesia berawal dari daerah Persia/ Iran. Hal ini didukung adanya ejaan dalam tulisan Arab dan gelar Shah atau Syah yang biasa digunakan di Persia juga pernah dipergunakan raja Malaka dan Aceh.

Manfaat Sejarah

Keberadaan sebuah ilmu yang ada di dunia ini tidak akan langgeng tanpa adanya kesadaran akan manfaatnya bagi manusia. Demikian hanya dengan sejarah sebagai salah satu cabang ilmu. Manusia mempelajari sejarah dengan satu kanduangan maksud yang isinya sangat beragam. Sebagai pengertian dasar bahwa keadaan manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil kejadian masa lalu maka perlu dirinci tentang kegunaan meneropong masa lalu melalui sejarah.

Sejarah sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan tidak pernah lepas dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kaitanhya dengan belajar sejarah, kita dapat mengambil manfaat sejarah, yang disebabkan :
1. Dapat mengakui keberadaan setiap manusia di masa lampau dan akan terus hidup abadi hingga saat ini dan mendatang.
2. Dapat mempersiapkan diri untuk menyampaikan kejadian masa lalu dan masa sekarang kepada generasi berikutnya sebagai bahan pengetahuan dan pengalaman.
3. Dapat meyakinkan orang berdasarkan alasan peristiwa di masa lampau.
4. Dapat memperbaiki hidup sendiri dengan merujuk kepada peristiwa di masa lalu untuk diambil pelajaran dan hikmah sehingga bisa bermanfaat untuk di masa depan.

Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah


Secara etimologis, kata sejarah berasal dari bahasa Melayu yang mengambil aslinya dari bahasa Arab dari kata “Syajarah”. Kata tersebut masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia (Melayu) setelah terjadinya akulturasi kebudayaan (proses percampuran dua kebudayaan atau lebih menjadi satu kebudayaan dengan tidak meninggalkan sifat dasar kebudayaan yang berpadu tersebut) Indonesia dengan kebudayaan Islam, yaitu puncaknya mulai abad 13 sejak berdirinya kerajaan Samudera Pasai di ujung utara Sumatera. Bangsa Melayu mengucapkan kata syajarah menjadi sejarah. 

Semula ada bermacam kemungkinan arti kata sejarah, yaitu: pohon, keturunan, asal-usul, dan juga diidentikkan dengan istilah silsilah atau riwayat. Seperti kita ketahui bersama, pohon adalah tumbuhan yang berasal dari biji. Dari biji inilah mula-mula tumbuh akar, kemudian batang, dari batang ini tumbuh terus dan selalu tumbuh hingga saat ini. 

Keadaan ini identik dengan perkembangan manusia. Dari Adam lahirlah anaknya manusia-manusia di dunia. Mereka terus berkembang turun-menurun dan tak ada hentinya, walau sedikitpun. Mereka terus tumbuh dan saat kini, sampai kepada kita, dan dari kita akan terus meneruskan sampai akhir jaman. Apabila kedua hal di atas tadi kita bandingkan, maka akan nampaklah kesejajaran antara sejarah dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Kata Sejarah yang lebih dekat dengan pengertian, terkandung dalam bahasa Yunani yaitu Historia yang berarti Ilmu atau Orang pandai. Sedangkan dalam bahasa Inggris, History yaitu masa lampau umat manusia dan dalam bahasa Jerman, Geschichte yaitu sesuatu yang telah terjadi.
Beberapa definisi sejarah menurut para ahli :
a. DR. H. Roeslan Abdulgani, menyatakan bahwa ilmu sejarah ialah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadiannya, dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah progres masa depan. 
b. W.H. Walsh, berkata bahwa History is a significant narrative of human actions and experinces in the past (sejarah adalah catatan dari tindakan dan pengalaman masa lalu manusia). 
c. JV.  Bryce, dalam bukunya: The Study of America History, menyatakan, bahwa sejarah itu: It is the record of what man has though, said and done (sejarah adalah catatan-catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan dan diperbuat oleh manusia). 
d. Patrick Gardiner, menyatakan bahwa : History is the study of what human beings have done (sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia). 
e. Prof. H. Moh. Yamin, SH., menyatakan bahwa sejarah menurut paham ilmiah ialah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan. 
f. Sidi Gazalba menyatakan bahwa sejarah adalah gambaran masa lalu tentang  manusia dan sekitarnya sebagai makhluk  sosial, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan, yang memberi pengertian dan kefahaman tentang apa yang telah berlalu itu. 
g. R. Moh Ali menyimpulkan definisi sejarah sebagai berikut: 
1) Sejarah yaitu kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa seluruhnya, yang berhubungan dengan manusia, benda dan secara singkat ialah menyangkut perubahan yang nyata di dalam kehidupan manusia. 
2) Sejarah yaitu ceritera yang tersusun sistematis (serba rapi dan teratur).
3) Sejarah yaitu ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian-kejadian di masa lampau.

Sebagai kesimpulan dapat disampaikan bahwa sejarah adalah sekumpulan peristiwa penting masa lalu sekelompok manusia tertentu di wilayah tertentu, sedang ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa penting masa lalu sekelompok manusia tertentu di wilayah tertentu. Sehingga perlu dibedakan antara makna kata sejarah dengan makna ilmu sejarah.


Ruang Lingkup Sejarah
Sejarah adalah sekumpulan peristiwa penting masa lalu sekelompok manusia tertentu di wilayah tertentu, sedang ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa penting masa lalu sekelompok manusia tertentu di wilayah tertentu. Sehingga perlu dibedakan antara makna kata sejarah dengan makna ilmu sejarah. Dalam membicarakan pengertian sejarah, terdapat tiga jangkauan arahan berpikir sejarah, di mana dari pengertian tersebut akan dapat ditemukan gambaran perbedaan makna akibat perbedaan sudut pandangnya, yaitu: 

1. Sejarah sebagai Peristiwa 
Sejarah sebagai peristiwa menyangkut kesadaran sebagai manusia yang bersejarah dan menyejarah. Bersejarah artinya manusia memiliki sejarah sedangkan pengertian manusia menyejarah artinya hanya manusia yang dapat membuat sejarah, sehingga keberadaan teori ini mengandung pengertian: 
a. Sejarah dipahami sebagai sesuatu yang telah berlalu yaitu kejadian-kejadian pada masa lampau yang sudah tidak  mungkin terjadi lagi dalam bentuk yang sama, sehingga tidak mungkin diamati dan disaksikan di masa sekarang dengan tepat. Ungkapan yang tepat untuk keadaan ini adalah kalimat “biarlah yang telah berlalu tetap berlalu”. 
b. Cerita  tentang sesuatu yang telah berlalu yang  dialami oleh manusia.
c. Keseluruhan pengetahuan sekitar waktu lampau manusia mengenai problematika tertentu dan mengenai masyarakat tertentu. 
d. Sejarah obyektif yaitu sejarah apa adanya sebagai proses dari perkembangan kejadian-kejadian sepanjang masa yang telah lampau. Sejarah yang tidak terbumbui oleh pendapat seseorang tentang suatu  kejadian sejarah. 

2. Sejarah sebagai Kisah 
Lain halnya dengan sejarah sebagai peristiwa, ada pendapat yang memandang sejarah sebagai kisah. Sejarah sebagai kisah diartikan sebagai sejarah yang disusun berdasarkan pengalaman masa lampau yang dipaparkan sebagai pernyataan dari sejarah sebagai peristiwa atau pertelaan sejarah. Hal ini dapat dikatakan bahwa sejarah sebagai  kisah merupakan : 
a. Aliran sejarah yang ingin menjelaskan sejarah yang berkaitan dengan motivasi manusia yang hidup pada waktu lampau.
b. Sejarah yang dikisahkan oleh si penutur sejarah baik sejarawan, maupun si penyaji sejarah sebagai peristiwa yang lainnya. 
c. Sejarah yang bersifat subyektif, yaitu sejarah yang telah mendapatkan penafsiran dari penyusun cerita sejarah, yaitu sejarawan (historicus). Sejarawan sebagai “The Man Behind the Gun”-nya lapangan sejarah. Mereka menyusun cerita sejarah berdasarkan jejak-jejak sejarah (jejak-jejak sejarah sebagai peristiwa) namun tetap dipengaruhi oleh sudut pandang/perspektif sejarawan itu sendiri. Sudut pandang sejarawan sangat dipengaruhi oleh ikatan waktu, kelompok, ideologi dan aspek lain yang ada di dalam kehidupan sejarawan, sehingga membawa dampak adanya kisah sejarah yang berbeda dan bahkan bertentangan antara penafsiran sejarawan satu dengan sejarawsan lain dalam melihat satu fakta sejarah yang sama baik dalam waktu, tempat, maupun tokohnya.

Oleh karena sejarah bersifat kisah atau cerita, maka isi kisahnya pun berbeda tergantung kepada siapa yang menyampaikannya, kepentingan, serta latar belakang si penyampai kisah bersangkutan. Kisah yang dituturkan berbeda karena setiap orang akan memberikan penafsiran yang berbeda tentang peristiwa yang dilihatnya. Dengan demikian akan cukup bijaksana jika sejarah dikisahkan itu disertai pula uraian mengenai sifat orang yang menyampaikan sejarah. 

3. Sejarah Sebagai Ilmu 
Lain halnya dengan sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah, sejarah sebagai ilmu menempatkan sejarah sebagai sesuatu yang didasarkan pada kajian ilmiah. Suatu peristiwa masa yang telah lampau yang diamati dalam bentuk-bentuk perubahan sosial yang mempunyai relevansi dengan masa ini. Sejarah sebagai ilmu merupakan sejarah yang disusun berdasarkan penelitian sehingga dalam penyusunannya diperlukan keahlian khusus  dengan mengurangi sedikit mungkin subjektifitas penulisan dan memperbanyak logika, sistematika  berpikir yang jelas dan objektivitas sejarah sehingga tergambar peristiwa sejarah yang mendekati kejadian nyata yang sebenarnya. 

Sejarah sebagai ilmu baru lahir pada awal abad XX. Pada saat itu tengah terjadi perdebatan ilmiah di antara ilmuwan tentang sejarah. Perdebatan pertama kali terjadi di Jerman yang melibatkan ahli filsafat dan sejarah. Permasalahan yang diangkat adalah apakah sejarah dapat digolongkan sebagai cabang ilmu pengetahuan atau sebuah seni.

Ilmu sejarah sendiri sudah mulai berkembang pada abad XIX, seiring dengan perkembangan ilmu yang lain. Pengetahuan sejarah ini mencakup kondisi atau situasi manusia pada suatu masa yang hidup dalam jenjang sosial tertentu. Ilmu sejarah berusaha mencari hukum-hukum yang mengendalikan manusia dan kehidupannya dan juga mencari penyebab timbulnya perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia.

Sebagai dasar untuk memasukkan sejarah sebagai salah satu ilmu yang berdikari adalah bahwa sejarah memiliki: 
a. Obyek yang definitif, yaitu apa yang telah diperbuat oleh manusia di masa lampau kaitannya dengan masa kini dan masa mendatang. 
b. Formulasi kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan, yang berupa cerita sejarah yang disusun secara ilmiah.
c. Metode yang efisien, baik dalam pengumpulan sumber, yang berupa cerita sejarah yang disusun secara ilmiah.
d. Metode yang efisien, baik dalam pengumpulan sumber, interpretasi, kritik sumber maupun historiografinya. 
e. Sistematika penyusunan tertentu, yang dimulai dari langkah awal penyusunan sejarah hingga langkah terakhir penulisan sejarah. 

4. Sejarah Sebagai Seni 
Pengertian sejarah sebagai seni dan bukan sebagai ilmu tersendiri berlangsung hingga munculnya tokoh Herodotus, dalam arti sejarah bukan merupakan ilmu yang berdiri sendiri namun masih berada di bawah ilmu sastra. Setelah ditemukan adanya penelitian sejarah secara ilmiah maka ilmu sejarah tersaji secara sendiri. Walaupun demikian sejarah tetap tersaji sebagai suatu karya seni. 

Sejarah sebagai seni dapat dikatakan sebagai cabang ilmu humaniora yang memandang pada pemeliharaan warisan budaya, yaitu pengalaman dan pikiran adat istiadat, sopan santun, agama, lembaga, tokoh-tokoh, dan sastra. Namun bila dilihat materi yang didapat sebagai sumber sejarah bersifat mental, terlepas antara satu dengan lainnya, maka diperlukan keahlian untuk mengadakan perangkaian antar fakta, data dan sumber sejarah yang didapat untuk mengungkap kisah sejarah sehingga menarik. 

Penafsiran terhadap fakta, data dan sumber sejarah yang didapat untuk mengungkap kisah sejarah sehingga menarik. Penafsiran terhadap fakta, data dan sumber sejarah yang sama sangat mungkin berbeda hasilnya antara sejarawan satu dengan lainnya. Hal ini menyangkut kemampuan mengungkap peristiwa sejarah dalam bahsa yang indah, yang dapat membawa pembaca menikmati karya sejarawan dalam menyusun karya ilmiahnya dalam keadaan suka dan dapat  menikmati. Sebagai kesimpulan dalam penelitian sejarah diperlukan proses dan prosedur ilmiah, namun dalam penyajiannya diperlukan kemampuan artistik, namun bukan merupakan karya seni mumi, mengingat metode keilmuan sejarah berbeda dengan keilmuan seni. Menurut pendapat A.F. Polland, sejarah adalah ilmu dan seni sebab ia memuat analisa ilmiah di materinya dan sintesa artistik pada hasilnya. Sebagai suatu gambaran pengertian sejarah sebagai seni merupakan cara membuat pembaca sejarah tertarik atas informasi masa lalu yang disajikan karena unsur keindahan yang disertakan di dalam menyajikan informasi sejarah di masa lampau sehingga akan mencapai sasaran penyampaian informasi sejarah.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Sejarah sebagai peristiwa berarti bahwa kejadian itu pernah ada dan benar-benar terjadi serta bisa dibuktikan secara ilmiah. Sedangkan sejarah sebagai Kisah, selain peristiwa itu ada, juga bisa dikisahkan atau bisa diceritakan kembali. Sejarah sebagai ilmu bahwa sejarah menggunakan metode analitis yaitu hasilnya harus dapat diverifikasi dan dapat disetujui atau ditolak oleh para ahli. Sementara sejarah sebagai seni mengandung arti bahwa dalam penyajian dari hasil penyelidikan itu disusun dalam suatu rangka tertentu sehingga dapat menarik perhatian orang dan dapat mempengaruhi sikap jiwanya.