Thursday, July 24, 2014

KRI Bung Tomo - KRI John Lie - KRI Usman Harun - Nakhoda Ragam Class 2014

Melanjutkan posting tentang kepahlawanan nasional sebelumnya, Bung Tomo merupakan tokoh yang berhasil memunculkan dan menggerakkan semangat perlawanan terhadap kekuatan asing yang ingin berkuasa kembali di Indonesia, dalam hal ini pertempuran Soerabaja 1945 yang terkenal. Tokoh John Lie yang berperan besar dalam memasok kebutuhan perang dan obat-obatan RI dengan menembus blokade kolonial Belanda. Usman dan Harun yang menunjukkan semangat tinggi dalam menjalankan tugas negara pada saat itu.


Semangat dan ketelaudanan tersebut perlu diketahui dan dikenal oleh generasi muda Indonesia. Untuk menghargai dan mengabadikan jasa tokoh-tokoh tersebut, maka TNI - AL dalam tahun 2014 ini memberikan nama untuk armada perang yang terbaru. KRI Bung Tomo 357, KRI Usman - Harun 358 dan KRI John Lie 359.

Di tahun 2014 ini, Satuan Kapal Eskorta TNI AL akan kedatangan 3 unit korvet (light fregate) kelas Nakhoda Ragam (F2000) buatan BAE Systems Marine, Inggris. Terdiri dari KRI Bung Tomo 357, KRI Usman Harun 358 dan KRI John Lie 359.

Meski dari bobot masuk kelas korvet (1.940 ton), tapi kapal perang yang bisa melaju hingga 30 knots ini punya bekal sistem senjata yang cukup canggih untuk ukuran armada TNI AL.


Komposisi utama terdiri dari kanon reaksi cepat OTO Melara kaliber 76 mm, rudal anti kapal MM-40 Exocet Block II (2 x 4 Quad),  2 peluncur torpedo triple tube kaliber 324mm, 2 kanon anti serangan udara kaliber 30 mm, dan 16 SAM Mica Naval.

Dari jenis senjata yang disebutkan tadi, semua sudah bukan barang ‘anyar’ bagi awak kapal tempur TNI AL, kecuali satu, yaitu rudal anti serangan udara Mica. Alasannya jelas, bahwa seumur-umur SAM VLS belum pernah digunakan TNI AL.

Sebelum membedah spesifikasi Mica, perlu diketahui, bahwa aslinya korvet ex pesanan Brunei ini mengusung SAM VLS jenis Sea Wolf buatan British Aerospace. Tapi lantaran usia Sea Wolf sudah uzur (pertama diproduksi tahun 1979), dan pihak pabriknya sudah tidak memproduksi lagi, maka Indonesia memilih Mica buatan MBDA, konsorsium manufaktur senjata dari Eropa Barat.

Soal pemilihan Mica bisa disebabkan beberapa faktor, diantaranya MBDA sudah menjadi rekanan TNI untuk memasok beberapa rudal sebelumnya. MBDA (Aerospatiale) – Perancis
menjadi vendor untuk rudal Exocet MM-38/MM-40, Mistral Tetral, dan Mistral Simbad untuk TNI AL.

Sementara TNI AD juga menggunakan rudal Mistral dengan peluncur Atlas untuk Arhanud. Rudal Mica Naval Total ada 16 peluncur rudal Mica di korvet Nakhoda Ragam Class, posisi penempatannya berada diantara anjungan dan di belakang kanon OTO Melara pada haluan kapal.

Oleh MBDA rudal ini dirancang untuk bisa dioperasikan dalam waktu singkat (rapid reaction ), mampu beroperasi di segala cuaca, dan mampu menyesuaikan dengan arah datangnya target hingga 360 derajat.
Rudal ini dioperasikan secara otomatis dari Combat Management Systems (CMS) yang berada di PIT (Pusat Informasi Tempur). Untuk pasokan data dan arah datangnya target dipasok dari radar surveillance 3D.

Saat rudal berhasil diluncurkan, tidak diperlukan dedicated target tracker, artinya Mica dapat melaju menghantarkan maut secara fire and forget.
Untuk sistem pemandu, rudal ini mengusung teknologi IR (infrared) atau radio frequency homing head .
Target favorit rudal ini adalah pesawat tempur, UAV, helikopter dan menyergap rudal anti kapal, termasuk sasaran dalam modus sea skimming.
Sistem CMS Mica dapat meng-handle multi target secara simultan. Guna menghadapi skenario serangan dari beragam target secara bersamaan, Mica dapat diluncurkan dalam tembakan salvo.

Bicara soal jangkauan, Mica dapat menyergap sasaran sejauh 20.000 – 25.000 meter dengan ketinggian 30.000 feet (setara 9.144 meter). Kalau kepepet, Mica bisa saja ditembakan dengan jarak minimum sasaran sejauh 1 km. Soal kecepatan, Mica dapat melaju hingga Mach 3.
Rudal ini punya bobot total 112 kg dengan berat hulu ledak 12 kg. Aktivasi hulu ledak didasarkan proximity radar fuze . Sementara untuk panjang rudal 3,1 meter dengan diameter 0,16 meter.

Yang patut diacungi jempol, Mica sanggup menghadapi target yang punya kemampuan manuver tinggi.
Semisal berhadapan dengan jet tempur, rudal ini sanggup meladeni G-force hingga 50G pada jarak 7 km, dan 30G pada jarak 12 km.

Di dalam kapal perang, Mica dikemas dalam sealed container untuk melindungi beragam komponen elektroniknya dari bahaya lingkungan eksternal.
Masa aktif rudal dirancang hingga 25 tahun. Bisa dibilang Mica adalah rudal yang low maintenance, dengan segala kecanggihannya hanya dibutuhkan satu kali pengecekan setiap 5 tahun.

Selain hadir untuk memperkuat 3 unit korvet, kabarnya Mica Naval juga didapuk sebagai SAM untuk PKR (Perusak Kawal Rudal)/frigat SIGMA 10514 TNI AL yang sedang memasuki awal produksi di Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda.
Hadirnya SAM VLS untuk TNI AL jelas merupakan angin segar dalam update teknologi alutsista. Adopsi ini menjadikan kekuatan rudal SAM TNI AL dapat sejajar dengan Singapura dan Malaysia, yang sudah jauh lebih dulu mengoperasikan SAM VLS untuk fregat-fregatnya.

Spesifikasi Mica VLS
Panjang : 3,1 meter
Diameter : 0,16 meter
Berat total : 112 kg
Berat Hulu Ledak : 12 kg
Kecepatan Luncur : Mach 2.5 – Mach 3
Jangkauan : 20.000 meter – 25.000 meter
Jangkauan Minimum : 1.000 meter
Ketinggian : 9.144 meter
Platform Peluncur : Naval dan Land based (truk min 4 ton)

Disarikan dari berbagai sumber.

Demikian informasi, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kebangsaan Indonesia. Terima kasih

No comments:

Post a Comment