Tuesday, January 17, 2017

Perkembangan Manusia Pra Aksara di Indonesia

Berdasarkan penelitian hasil temuan peninggalan sejarah yang berupa fosil (tulang manusia, hewan dan tumbuhan) maupun artefak (peralatan hidup) yang telah membatu, ternyata dapat diketahui bahwa di Jawa pernah hidup berbagai jenis manusia sejarah awal. Fosil manusia yang ditemukan berupa tengkorak, tulang paha, tulang kaki, dan rahang. Dengan merekonstruksi fosil tersebut, maka para ahli berusaha menganalisis bentuk fisik dan tingkat budaya saat itu.

Fosil manusia yang ditemukan pada jaman pleistosen terdapat di berbagai tempat di dunia. Di Indonesia sebagian besar baru ditemukan di Jawa. Indonesia, dalam hal ini Jawa menduduki posisi penting dalam perkembangan paleoantropologi, dimana banyak ditemukan fosil dari segala jaman pleistosen. Oleh karena itu nampak sekali perkembangan biologis manusia tersebut.

Jaman pleistosen ditandai dengan munculnya manusia dan diikuti dengan berbagai peristiwa yang memiliki pengaruh besar bagi kehidupan pada saat itu. Peristiwa tersebut adalah meluasnya es ke sebagian permukaan bumi, perubahan iklim, timbulnya daratan baru, terjadinya letusan gunung berapi, timbul dan tenggelamnya daratan karena turun naiknya permukaan air laut. Peristiwa ini mem[engaruhi cara hidup manusia, hewan maupun tumbuhan di muka bumi. Jenis manusia pada sejarah awal di Indonesia meliputi :

1. Meganthropus
Meganthropus berasal dari kata Mega = besar dan anthropus = manusia, artinya manusia besar. Jenis ini baru ditemukan satu yaitu Meganthropus Paleojavanicus atau Manusia Raksasa dari Jawa Kuno. Meganthropus diteliti oleh GHR. Von Koenigswald dan Marks di Sangiran (Jawa Tengah) tahun 1936 dan 1941 yang berada pada lapisan pleistosen bawah (formasi Pucangan). Adapun fosil yang ditemukan berupa tulang rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat bila dibandingkan dengan rahang Pithecanthropus. Berdasarkan fosilnya, jenis ini memiliki ciri : rahang besar, geraham besar, otot kunyah kuat, muka masif, tulang pipi tebal, tonjolan kening tajam, tonjolan belakang kepala besar, tidak memiliki dagu, tempat pelekatan otot tengkuk yang besar dan kuat, dan perawakan yang tegap. Dalam kehidupannya memakan tumbuhan tanpa diolah dan hidup 2 juta – 1 juta tahun yang lalu. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa meganthropus memiliki ciri :
a. memiliki badan yang tegap dan rahang yang besar dan kuat.
b. hidup dengan memakan tumbuhan, misal umbi-umbian dan buah-buahan.
c. belum mampu bercocok tanam, tetapi hanya mengumpulkan bahan makanan dari alam sekitar.

2. Pithecanthropus
Pithecanthropus berasal dari kata Pithe = kera dan anthropus = manusia, artinya “manusia kera”. Jenis pithecanthropus merupakan bentuk paling dominan dan hidup sepanjang jaman pleistosen. Daerah penemuannya meliputi : Mojokerto, Kedungbrubus, Sangiran, Sambungmacan dan Ngandong (Jawa), Sumatra, Sulawesi, Philipina dan Cina. Adapun ciri pithecanthropus secara umum yaitu : tinggi badan 165 – 180 cm, badan tegap, geraham besar, rahang kuat, tonjolan kening melintang yang tajam dan tonjolan belakang kepala tajam, dagu dan hidung lebar. Volume tengkorak 750 cc – 1300 cc, hidup 2,5 juta – 1,5 juta tahun yang lalu serta memakan tumbuhan dan hewan. Dalam berburu, diperkirakan satu rombongan terdiri dari 20 – 50 orang. Wanita dimungkinkan banyak meninggal pada saat melahirkan. Banyak anak dalam masa berburu dianggap kurang menguntungkan. Jenis pithecanthropus dibedakan atas :

a. Pithecanthropus Mojokertoensis
Jenis ini sering disebut manusia kera dari Mojokerto, yang ditemukan di Perning, lembah Bengawan Solo (Mojokerto) oleh GHR von Koenigswald (1936) dan berasal dari lapisan pleistosen bawah yaitu formasi Pucangan Kepuhklager dan Sangiran. Di Kepuhklager temuan fosil berupa tengkorak berusia 6 tahun dengan volume tengkorak ± 650 cc dan jika dewasa ± 1000 cc. Tengkorak di Sangiran memiliki isi tengkorak berkisar 900 cc. Pithecanthropus Mojokertensis memiliki ciri : pemakan segalanya, hidup 2,25 juta – 1,25 juta tahun yang lalu. Secara fisik memiliki ciri: tinggi tubuh 130 – 210 cm, berat badan 150 kg, otak lebih besar daripada Meganthropus, otot tengkuk mengalami penyusutan, dahi masih menonjol dan berdiri tegak serta berjalan lebih sempurna.

b. Pithecanthropus Erectus
Jenis ini sering disebut manusia kera yang berjalan tegak yang ditemukan di Trinil (Ngawi) oleh Eugene Dubois tahun 1890. Ciri fisiknya : tinggi badan 165 – 170 cm, berat badan ± 100 kg, tangan mampu menggenggam, badan tegap dan alat pengunyah kuat. Volume otak sekitar 900 cc (manusia biasa sekitar 1000 cc). Makanan sudah mulai diolah, mulai menggunakan api, daging menjadi makanan sehari-hari dan hidup antara 1 juta – 0,5 juta tahun yang lalu. Cara berjalan belum tegak benar, dimana tangan masih sering membantu. Fosil yang ditemukan berupa sebagian tulang rahang, bagian atas tengkorak dan geraham. Berikutnya ditemukan geraham dan tulang paha kiri (1892).

Sejaman dengan pithecanhtropus Erectus, di Cina ditemukan Pithecanthropus Pekinensis. Di Kenya (Afrika), ditemukan jenis Austrolopithecus Afrikanus. Sedangkan di Eropa Barat dan Tengah ditemukan sisa makhluk manusia Piltdown dan Heidelberg. Jenis ini menurunkan manusia Neanderthal. Teuku Jacob menyatakan bahwa pithecanthropus sudah bisa bertutur ditambah bahasa isyarat.

c. Pithecanthropus Robustus
Pithecanthropus Robustus dapat diartikan sebagai pithecanthropus = manusia kera dan robustus = kuat/ besar, berarti manusia kera yang besar / kuat. Jenis ini ditemukan oleh Weidenreich dan Koenigswald di daerah Mojokerto dengan ciri unsur manusia lebih dominan (1939). Jika dilihat dari ciri fisik, maka jenis ini terletak diantara Pithecanthropus Mojokertensis dengan Pithecanthropus Erectus. Bentuk tubuhnya diperkirakan lebih besar dan kuat dibanding Pithecanthropus Erectus.

3. Homo
Homo merupakan manusia sejarah awal/ purba yang termuda bila dibandingkan dengan fosil manusia yang lain. Jenis Homo dapat dikatakan manusia purba yang memiliki sifat seperti manusia sekarang (Homo Sapiens). Jenis Homo yang dianggap tertua adalah Homo Neanderthalensis yang diperkirakan sudah hidup di bumi 250.000 tahun yang lalu. Jenis ini mendiami daerah Eropa, Asia Barat dan Afrika Utara. Kemampuan bertutur kata diperkirakan belum begitu berkembang. Volume otaknya berkisar 1.000 – 2.000 cc. tinggi badan berkisar 130 – 210 cm dengan berat badan mencapai 30 – 150 kg.

Jenis Homo Sapiens sudah muncul di bumi sekitar 40.000 tahun yang lalu. Jenis ini menyebar hampir di seluruh muka bumi. Homo Sapiens diperkirakan sudah mampu bertutur kata, meslipun masih sederhana dengan disertai bahasa isyarat. Populasinya tersebar di Niah/ Serawak (Malaysia), Palawan (Philipina), Cina Selatan dan Australia yang hidup sekitar 30.000 tahun yang lalu.

Adapun jenis Homo yang dijumpai di Indonesia, berdasarkan pelapisan tanah penemuannya, dapat diperkirakan hidup antara 60.000 – 20.000 tahun yang lalu. Fosil Homo ditemukan di daerah Wajak (Tulungagung) dan Solo. Ciri fisik lebih maju dibanding pithecanthropus yaitu volume tengkorak 1000 – 2000 cc, tinggi badan 130 – 210 cm, berat badan 30 – 150 kg, berdiri dan berjalan lebih sempurna. Disamping itu juga dahi masih menonjol, otot tengkuk mengalami penyusutan.

a. Homo Soloensis
Homo Soloensis ditemukan pada lapisan pleistosen atas di daerah lembah Bengawan Solo yaitu desa Ngandong. Fosil ini ditemukan dan diteliti Von Koenigswald dan Weidenreich (1931 dan 1934). Dari tempat tersebut ditemukan fosil berupa 11 tengkorak dan dua tulang paha. Von Koenigswald menyatakan jenis Homo Soloensis memiliki tingkat yang lebih tinggi dibanding jenis Meganthropus dan Pithecanthropus. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak dengan volume otak yang lebih besar yang menunjukkan fosil manusia. Jenis ini hidup 900.000 – 200.000 tahun yang lalu. Homo Soloensis digolongkan jenis Homo Neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo Sapiens dari Asia, Eropa dan Afrika. Manusia Solo memiliki tinggi badan 1,30 m – 2,1 m dan berat badan 30 – 150 kg.

b. Homo Wajakensis
Homo Wajakensis ditemukan von Reistchotten (1889) dan diselidiki lebih lanjut oleh Eugene Dubois. Jenis homo ini ditemukan pada lapisan pleistosen atas di daerah Wajak, Tulungagung. Manusia Wajak termasuk rumpun sub ras Melayu Indonesia dan berevolusi menjadi ras Austromelanesoid. Adapun ciri fisiknya meliputi : tengkorak sedang, agak lonjong, muka lebih mongoloid dan pipi menonjol ke samping. Hidup sekitar 40.000 – 25.000 tahun yang lalu. Di Asia Tenggara dijumpai fosil sejenis yaitu manusia Niak (Serawak) dan manusia Tabon (Palawan/ Philipina).

Homo Wajakensis diperkirakan sudah mengenal api dan memakan makanan yang dimasak lebih dahulu secara sederhana. Disamping itu juga mampu membuat peralatan hidup dari batu dan tulang.

Berdasarkan jenis manusia pada sejarah awal tersebut, von Koeningswald membagi lapisan pleistosen menjadi 3 bagian, yaitu :

1. Pleistosen bawah (formasi Pucangan)
Pada lapisan ini diselidiki oleh Duyfjes, von Koenigswald dan de Terra yang ditemukan jenis Pithecanthropus Mojokertensis dan Meganthropus Palaeojavanicus.

2. Pleistosen Tengah (formasi Kabuh)
Lapisan pleistosen tengah diselidiki Van Es, Duyfjes dan de Terra dan terpusat di daerah pegunungan Kendeng (Sangiran dan Trinil), daerah Kabuh dan Sumber Ringin (Jombang). Di formasi Kabuh ini ditemukan jenis Pithecanthropus Erectus.

3. Pleistosen Atas (formasi Notopuro)
Lapisan pleistosen atau formasi Notopuro merupakan pelapisan masa pleistosen yang paling muda. Pleistosen lapisan atas dapat dijumpai di pegunungan Kendeng, Ungaran, Ngawi, Jombang dan Sangiran. Penyelidikan dilakukan oleh Oppenoorth dan Ter Haar (1931 – 1932). Jenis yang ditemukan adalah Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.

Manusia jenis Homo Wajakensis yang ditemukan pada lapisan pleistosen atas, dimungkinkan termasuk Homo Sapiens. Jenis ini memiliki ciri fisik yang membedakan dengan jenis sebelumnya dan memiliki kemiripan dengan manusia modern.

Monday, January 16, 2017

Informasi SNMPTN tahun 2017


Latar Belakang
Penerimaan mahasiswa baru harus memenuhi prinsip adil, akuntabel, transparan, dan tidak diskriminatif dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi calon mahasiswa serta tetap memperhatikan potensi calon mahasiswa dan kekhususan perguruan tinggi. Perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan setelah pendidikan menengah menerima calon mahasiswa yang berprestasi akademik tinggi dan diprediksi akan berhasil menyelesaikan studi di perguruan tinggi berdasarkan prestasi akademik. Siswa yang berprestasi tinggi dan konsisten menunjukkan prestasinya layak mendapatkan kesempatan untuk menjadi calon mahasiswa melalui SNMPTN.

Dalam kerangka integrasi pendidikan menengah dengan pendidikan tinggi, sekolah diberi peran dalam proses seleksi SNMPTN dengan asumsi bahwa sekolah sebagai satuan pendidikan dan guru sebagai pendidik selalu menjunjung tinggi kehormatan dan kejujuran sebagai bagian dari prinsip pendidikan karakter. Oleh Karena itu, sekolah berkewajiban mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) dengan lengkap dan benar, serta mendorong dan mendukung siswa dalam proses pendaftaran.

Tujuan
Tujuan SNMPTN adalah sebagai berikut:
a. Memberikan kesempatan kepada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah (MA), atau yang sederajat di dalam dan luar negeri (Sekolah Republik Indonesia/SRI) yang memiliki prestasi unggul untuk menempuh pendidikan tinggi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
b. Memberikan peluang kepada PTN untuk mendapatkan calon mahasiswa baru yang mempunyai prestasi akademik tinggi.

Ketentuan Umum
a. SNMPTN merupakan pola seleksi nasional berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik dengan menggunakan rapor semester 1 (satu) sampai dengan semester 5 (lima) bagi SMA/SMK/MA atau sederajat dengan masa belajar 3 (tiga) tahun atau semester 1 (satu) sampai dengan semester 7 (tujuh) bagi SMK dengan masa belajar 4 (empat) tahun, serta portofolio akademik.
b. Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) merupakan basis data yang berisikan rekam jejak kinerja sekolah dan prestasi akademik siswa.
c. Sekolah yang siswanya mengikuti SNMPTN harus mempunyai Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan mengisikan data prestasi siswa di PDSS.
d. Siswa yang berhak mengikuti seleksi adalah siswa yang memiliki Nomor Induk Siswa nasional (NISN), memiliki prestasi unggul dan rekam jejak prestasi akademik di PDSS.
e. Siswa yang akan mendaftar SNMPTN wajib membaca informasi pada laman PTN yang dipilih tentang ketentuan yang terkait dengan penerimaan mahasiswa baru.

Ketentuan Khusus
Persyaratan Sekolah
Sekolah yang siswanya berhak mengikuti SNMPTN adalah:
SMA/SMK/MA atau sederajat (termasuk SRI di luar negeri) yang mempunyai NPSN dan telah mengisi PDSS dengan lengkap dan benar.

Persyaratan Siswa Pendaftar
Siswa SMA/SMK/MA atau sederajat (termasuk SRI di luar negeri) kelas terakhir pada tahun 2017 yang memenuhi persyaratan sebagai berikut.
a. Memiliki prestasi unggul yaitu calon peserta masuk peringkat terbaik di sekolah, dengan ketentuan berdasarkan akreditasi sekolah sebagai berikut:
1. akreditasi A, 50% terbaik di sekolahnya;
2. akreditasi B, 30% terbaik di sekolahnya;
3. akreditasi C, 10% terbaik di sekolahnya;
4. belum terakreditasi, 5% terbaik di sekolahnya.
Pemeringkatan dilakukan oleh Panitia Pusat.

b. Memiliki NISN dan terdaftar pada PDSS,
c. Memiliki nilai rapor semester 1 sampai semester 5 (bagi siswa SMA/SMK/MA atau sederajat tiga tahun) atau nilai rapor semester 1 sampai semester 7 (bagi SMK empat tahun) yang telah diisikan pada PDSS.
d. Memenuhi persyaratan lain yang ditentukan oleh masing-masing PTN (dapat dilihat pada laman PTN bersangkutan).

Penerimaan di PTN
Peserta diterima di PTN, jika:
a. lulus satuan pendidikan;
b. lulus SNMPTN 2017; dan
c. lulus verifikasi data dan memenuhi persyaratan lain yang ditentukan oleh masing-masing PTN penerima.

Tahapan Mengikuti SNMPTN
Tahapan mengikuti SNMPTN dilakukan sebagai berikut:
Pengisian dan Verifikasi PDSS
a. Kepala Sekolah atau yang ditugaskan oleh Kepala Sekolah mengisi data sekolah dan siswa di PDSS harus melalui laman http://pdss.snmptn.ac.id.
b. Kepala Sekolah atau yang ditugasi oleh Kepala Sekolah mendapatkan password yang akan digunakan oleh siswa untuk melakukan verifikasi.
c. Siswa melakukan verikasi data rekam jejak prestasi akademik (nilai rapor) yang diisikan oleh Kepala Sekolah atau yang ditugasi oleh Kepala Sekolah dengan menggunakan NISN dan password.
d. Apabila siswa tidak melaksanakan verifikasi data rekam jejak prestasi akademik (nilai rapor) yang diisikan oleh Kepala Sekolah atau yang ditugaskan oleh Kepala Sekolah maka data yang diisikan dianggap benar dan tidak dapat diubah setelah waktu verifikasi berakhir.

Pemeringkatan
a. Panitia Pusat melalui sistem membuat pemeringkatan siswa berdasarkan nilai mata pelajaran sebagai berikut.
1. Jurusan IPA: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi.
2. Jurusan IPS: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi.
3. Jurusan Bahasa: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sastra Indonesia, Antropologi, dan salah satu Bahasa Asing.
4. SMK: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Kompetensi Keahlian (Teori Kejuruan dan Praktek Kejuruan).
b. Berdasarkan pemeringkatan prestasi akademik yang dilakukan Panitia Pusat, siswa yang memenuhi syarat diizinkan untuk mendaftar SNMPTN 2017.

Pendaftaran SNMPTN
a. Siswa Pendaftar yang memenuhi kriteria pemeringkatan, menggunakan NISN dan password login ke laman SNMPTN 2017 http://www.snmptn.ac.id untuk melakukan pendaftaran.
b. Siswa Pendaftar mengisi biodata, pilihan PTN, dan pilihan program studi, serta mengunggah (upload) pasfoto resmi terbaru dan dokumen prestasi tambahan (jika ada). Pendaftar harus membaca dan memahami seluruh ketentuan yang berlaku pada PTN yang akan dipilih.
c. Siswa Pendaftar pada program studi bidang seni dan olahraga wajib mengunggah portofolio dan dokumen bukti keterampilan yang telah disahkan oleh Kepala Sekolah menggunakan pedoman yang dapat diunduh dari laman http://www.snmptn.ac.id.
d. Siswa Pendaftar mencetak Kartu Bukti Pendaftaran sebagai tanda bukti peserta SNMPTN.
Bagi sekolah dan/atau pendaftar yang mengalami kesulitan akses Internet, dapat melakukan pengisian PDSS maupun pendaftaran dapat dilakukan di PLASA TELKOM di seluruh Indonesia.

Jadwal SNMPTN
Jadwal pelaksanaan SNMPTN adalah sebagai berikut:
Pengisian PDSS 14 Januari – 10 Februari 2017
Verifikasi PDSS 15 Januari – 12 Februari 2017
Pendaftaran SNMPTN 21 Februari – 6 Maret 2017
Pencetakan Kartu Tanda Peserta SNMPTN 14 Maret – 14 April 2017
Proses Seleksi 15 Maret - 15 April 2017
Pengumuman Hasil Seleksi 26 April 2017
Proses verifikasi dokumen peserta dan/atau pendaftaran ulang di PTN masing-masing bagi yang lulus seleksi tanggal 16 Mei 2017 (bersamaan dengan pelaksanaan ujian tertulis SBMPTN 2017).

Jumlah Pilihan PTN dan Program Studi
a. Pendaftar dapat memilih sebanyak-banyaknya 2 (dua) PTN. Apabila memilih 2 (dua) PTN, maka salah satu PTN harus berada di provinsi yang sama dengan SMA asalnya, apabila memilih satu PTN, maka PTN yang dipilih dapat berada di provinsi mana pun.
b. Pendaftar dapat memilih sebanyak-banyaknya 3 (tiga) program studi dengan ketentuan 1 (satu) PTN maksimal 2 (dua) program studi.
c. Urutan pilihan PTN dan program studi menyatakan prioritas pilihan.
d. Siswa SMK hanya diizinkan memilih program studi yang relevan dan ditentukan oleh masing-masing PTN.
e. Daftar program studi dan daya tampung SNMPTN tahun 2017 dapat dilihat pada laman http://www.snmptn.ac.id selama periode pendaftaran.

Biaya
Biaya SNMPTN ditanggung Pemerintah, sehingga Siswa Pendaftar tidak dipungut biaya apapun.

Prinsip dan Tahapan Seleksi
Prinsip Seleksi
Seleksi dilakukan berdasarkan prinsip:
a. mendapatkan calon mahasiswa yang berkualitas secara akademik dengan menggunakan nilai rapor dan prestasi-prestasi akademik lainnya yang relevan dengan program studi yang dipilih;
b. memperhitungkan rekam jejak kinerja sekolah.
c. menggunakan kriteria seleksi nasional dan kriteria yang ditetapkan oleh masing-masing PTN secara adil, akuntabel, dan transparan.

Tahapan Seleksi
Seleksi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a. Pendaftar diseleksi di PTN pilihan pertama berdasarkan urutan pilihan program studi,
b. Pendaftar yang memilih program studi di dua PTN, jika tidak lulus di PTN 1 maka akan diseleksi di PTN 2 berdasar urutan prodi dan ketersediaan daya tampung.

Sanksi Bagi Sekolah dan/atau Siswa yang Melakukan Kecurangan
Sanksi tegas bagi siswa/calon mahasiswa dan/atau sekolah yang melakukan kecurangan sebagai berikut.
a. Sekolah yang melakukan kecurangan tidak diikutsertakan dalam SNMPTN tahun berikutnya.
b. Siswa yang melakukan kecurangan dibatalkan status kelulusan SNMPTN.

Laman Resmi dan Alamat Panitia Nasional
a. Informasi resmi SNMPTN 2017 dapat diunduh melalui laman http://www.snmptn.ac.id.
b. Informasi resmi juga dapat diperoleh melalui http://halo.snmptn.ac.id, dan call center 08041 450 450.
c. Informasi juga dapat diperoleh di kantor Humas PTN terdekat.
d. Alamat Panitia Pusat:
Gedung dr. Prakosa (Lt.2)
Kantor Pusat Universitas Sebelas Maret
Jl. Ir. Sutami No 36A, Kentingan Surakarta 57126
Telp. 0271-7890329, Fax. 0271-636268
Email: panpus.snmptn.sbmptn@mail.uns.ac.id

Lain-lain
a. Siswa Pendaftar dari keluarga kurang mampu dapat mengajukan bantuan biaya pendidikan Bidikmisi melalui laman http://belmawa.ristekdikti.go.id/bidikmisi.
b. Perubahan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan SNMPTN Tahun 2017 akan diinformasikan melalui laman http://www.snmptn.ac.id.

Wednesday, January 4, 2017

Sosialisasi Dalam Masyarakat


Sosialisasi menurut Soerjono Soekanto dikemukakan sebagai suatu proses tempat seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan perilaku orang-orang di dalam kelompok yang bersangkutan.
Sosialisasi yang berkembang dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi empat bagian, yaitu :
1. Sosialisasi primer
Peter Berger dan Luckman, mengemukakan pengertian sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil, dimana ia menjadi anggota masyarakat.
2. Sosialisasi sekunder
Sosialisasi sekunder adalah proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasikan ke dalam sektor baru dari dunia obyektif masyarakatnya.
3. Sosialisasi represif
Sosialisasi represif merupakan sosialisasi yang menekankan pengawasan yang ketat dan pemberian hukuman kepada setiap orang yang melanggar peraturan atau norma yang berlaku, misal di lingkungan pendidikan khusus (militer atau kepolisian).
4. Sosialisasi partisipasi
Sosialisasi partisipasi adalah sosialisasi yang menekankan pada keikutsertaan seorang individu dalam proses sosial. Individu yang mematuhi norma diberi pujian, sedangkan yang belum diberi bimbingan, diarahkan dan diluruskan seandainya terjadi penyimpangan.

Sosialisasi yang berlangsung dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik dan lancar sangat dipengaruhi faktor :
1. Faktor internal
Faktor internal merupakan aspek yang berasal dari dalam diri seseorang. Faktor ini dapat meliputi motivasi, minat dan kemampuan yang dimiliki seorang individu dalam rangka menyesuaikan diri dengan tata pergaulan yang ada dalam masyarakat.

2. Faktor eksternal
Sedangkan faktor eksternal merupakan aspek yang berasal dari luar individu dalam melakukan sosialisasi di masyarakat. Faktor tersebut dapat berupa norma, nilai, struktur sosial, ekonomi, struktur budaya dan sebagainya.

Fungsi sosialisasi adalah :
1. Membentuk pola perilaku dan kepribadian individu berdasarkan kaidah nilai dan norma suatu masyarakat.
2. Menjaga keteraturan hidup dalam masyarakat atas keragaman pola tingkah laku berdasarkan nilai dan norma yang diajarkan.
3. Menjaga integritas kelompok dalam masyarakat.

Tujuan sosialisasi adalah :
1. Mewariskan nilai dan norma kepada generasi penerus
2. Membantu individu untuk mengenal lingkungan sekitar atau beradaptasi
3. Memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan nilai dan norma yang harus dipelajari, diinternalisasi, serta dilakukan oleh individu
4. Menjaga hubungan sosial yang ditunjukkan dengan adanya integrasi dalam masyarakat.
5. Mencegah terjadinya perilaku menyimpang yang akan dilakukan seseorang / sebagai dasar pengendalian sosial.

Media Sosialisasi
Foller dan Jacobs mengemukakan empat agen utama sosialisasi yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa dan sekolah.
1. Keluarga
Keluarga merupakan tempat paling awal seorang individu melakukan pembelajaran diri dalam masyarakat. Secara sosiologis, keluarga dapat dibedakan atas keluarga inti (batih/ nuclear family) dan keluarga luas (extended family). Keluarga inti terdiri atas ayah, ibu, anak yang tinggal di dalam satu rumah dalam waktu relatif lama. Orang tua memiliki peran penting dalam sosialisasi awal bagi seorang individu.
Orang tua memiliki peran penting dalam sosialisasi awal bagi seorang individu. Penanaman nilai dalam keluarga diharapkan dapat sesuai dengan karakter orang tua dan sejalan dengan nilai yang berkembang dalam masyarakat. Dalam proses pembelajaran anak, orang tua sangat berperan dengan mengambil kebijakan untuk :
1) Mengusahakan anak-anaknya agar selalu berdekatan dengan orang tuanya.
2) Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar sehingga anak tidak merasa tertekan jiwanya.
3) Mendorong agar anak dapat membedakan antara perilaku benar dan salah, baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, dan sebagainya.
4) Memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya.
5) Menasehati anak jika melakukan kesalahan, selanjutnya menunjukkan dan mengarahkan ke jalan yang benar, serta tidak mudah dalam menjatuhkan hukuman kepada anak.

Dalam lingkungan keluarga, sosialisasi dapat dibedakan atas sosialisasi represif dan sosialisasi partisipasi. Sosialisasi represif (repressive socialization) mengutamakan adanya ketaatan anak pada orang tua. Sedangkan sosialisasi partisipasi (participatory socialization) mengutamakan partisipasi dari anak.
1) Sosialisasi represif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) menghukum perilaku yang keliru.
b) hukuman dan imbalan material.
c) kepatuhan anak.
d) komunikasi sebagai perintah.
e) komunikasi non verbal.
f) sosialisasi berpusat pada orang tua.
g) anak memperhatikan keinginan orang tua.
h) keluarga merupakan significant order (dominasi orang tua).

2) Sosialisasi partisipasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) memberikan imbalan bagi perilaku yang baik.
b) hukuman dan imbalan simbolis.
c) otonomi anak.
d) komunikasi sebagai interaksi.
e) komunikasi verbal.
f) sosialisasi berpusat pada anak.
g) orang tua memperhatikan keinginan anak.
h) keluarga merupakan generalized order (kerjasama ke arah tujuan).

2. Kelompok bermain (peer group)
Sejak lahir individu melakukan sosialisasi awal di lingkungan keluarga. Sejalan dengan bertambahnya usia, individu mulai mengenal teman sebaya sebagai kelompok bermain atau peer group. Individu/ anak mulai mempelajari aturan yang berkaitan dengan peranan orang yang kedudukannya sederajat. Individu akan menemukan keadaan yang berbeda dan kemampuan baru bersama teman bermainnya.
Pada usia remaja, kelompok bermain berkembang menjadi kelompok persahabatan yang lebih luas. Hal ini disebabkan bertambah luasnya ruang lingkup pergaulan remaja. Adapun peran positif kelompok persahabatan bagi perkembangan kepribadian anak diantaranya :
1) Rasa aman dan rasa dianggap penting dalam kelompok akan sangat berguna bagi perkembangan jiwa anak.
2) Perkembangan kemandirian remaja tumbuh dengan baik dalam kelompok persahabatan.
3) Remaja mendapat tempat yang baik bagi penyaluran rasa kecewa, takut, khawatir, gembira dan sebagainya yang mungkin tidak diperoleh di rumah.
4) Melalui interaksi dalam kelompok, remaja dapat mengembangkan berbagai ketrampilan sosial yang berguna bagi kehidupannya kelak.
5) Pada umumnya kelompok persahabatan memiliki pola perilaku dan kaidah tertentu yang mendorong remaja untuk bersikap lebih dewasa.

3. Sekolah
Dreeben mengemukakan bahwa melalui media sekolah, anak dituntut memiliki tanggungjawab yang lebih karena semua pekerjaan yang diberikan sekolah tidak bisa dikerjakan dengan mengharapkan bantuan dari orang tua. Guru akan menuntut seorang anak untuk mandiri dan tidak tergantung kepada orang tua.
Sekolah merupakan tahap peralihan antara keluarga dan masyarakat. Sekolah memperkenalkan aturan yang baru bagi individu dimana sering berbeda dengan aturan yang telah dipelajari selama sosialisasi dalam keluarga.

Menurut Horton, fungsi nyata dari pendidikan diantaranya adalah :
1) Sebagai modal penting dalam menentukan mata pencaharian.
2) Dapat mengembangkan potensi demi pemenuhan kebutuhan pribadi dan pengembangan masyarakat
3) Melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
4) Membentuk kepribadian.

4. Media massa
Media massa merupakan sarana komunikasi masyarakat secara luas yang memberikan pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat. Media massa dapat berupa media cetak maupun media elektronik. Pesan yang disampaikan melalui media massa berbeda satu dengan yang lain dan kadang-kadang bertentangan dengan aturan yang dipahami di rumah.

5. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja ikut mempengaruhi pembentukan kepribadian seorang individu. Setiap individu bekerja dalam kegiatan kelompok sesuai dengan tugasnya masing-masing. Pengaruh tersebut pada umumnya mengendap dalam diri individu dan sulit untuk diubah, terutama jika individu cukup lama bekerja di lingkungannya.

Tahap sosialisasi
Mengenai tahap-tahap sosialisasi telah banyak dikemukakan para ahli. Dalam hal ini akan diperkenalkan pemikiran :

a. George Herbert Mead
Sosialisasi yang dilakukan individu melalui peran yang harus dijalankan, sehingga lahir teori peranan atau Role Theory yang meliputi tahap :

1) Play Stage
Tahap ini sering diistilahkan dengan tahap bermain. Tahap bermain ditandai dengan peran yang dilakukan anak kecil yang menirukan peran yang dimainkan orang yang berada di sekitarnya, misal orang tua atau orang dewasa lainnya. Anak kecil yang bermain peran dan menjalankan peran tanpa memahami isi peran tersebut.

2) Game Stage
Game stage diistilahkan dengan tahap permainan, yang ditandai masa peniruan sudah mulai berkurang dan digantikan dengan peran yang secara langsung dimainkan dengan penuh kesadaran. Jumlah individu yang berinteraksi dengannya makin banyak dan kompleks serta mulai memahami peranan yang harus dijalankan orang lain.

3) Generalized Others
Generalized others sering diistilahkan dengan tahap penerimaan norma kolektif. Tahap ini ditandai dengan anak telah menginjak dewasa dan mampu mengambil peran yang dijalankan orang lain dalam masyarakat. Individu mampu berinteraksi dengan orang lain karena telah memahami peranan sendiri dan peranan orang lain.
Dengan demikian tampak sekali bahwa seorang individu terbentuk melalui interaksi dengan orang lain.

b. Charles Horton Cooley
Gagasan Cooley sering dikenal dengan Looking Glass-self (Cermin Diri) yang dalam hal ini menekankan pentingnya peranan interaksi dalam sosialisasi. Seorang individu akan berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Individu tersebut berkembang melalui tahap :
1) Persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya.
2) Persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya.
3) Seorang individu mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadap dirinya.

6. Peranan nilai dan norma sosial dalam sosialisasi
Hidup manusia berpola pada nilai sosial. Nilai sosial merupakan ukuran, patokan, anggapan dan keyakinan yang dianut oleh orang banyak dalam suatu masyarakat mengenai apa yang dianggap benar, pantas, luhur, dan baik untuk dikerjakan, dilaksanakan atau diperhatikan. Nilai sosial dapat dirumuskan sebagai petunjuk secara sosial terhadap obyek baik yang bersifat material maupun non material. Nilai sosial bersifat abstrak, sehingga harga diri diukur berdasarkan struktur sosial yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, nilai digunakan sebagai patokan berperilaku sosial, sehingga individu yang menjadi anggota kelompok harus melakukan penyesuaian terhadap nilai yang berlaku dalam masyarakat

Dalam sosialisasi, individu akan diajarkan nilai dan norma sosial yang ada dalam masyarakat. Pengetahuan dan pemahaman mengenai nilai dan norma sosial sangat penting dalam proses tersebut, agar manusia mampu melakukan penyesuaian terhadap nilai dan norma sosial yang sudah ada di dalam masyarakat. Sebagai petunjuk dan pedoman berperilaku serta sikap manusia, nilai dan norma disosialisasikan generasi tua kepada generasi muda di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat luas. Dengan demikian sosialisasi dapat dikatakan pula sebagai proses memahami nilai dan norma sosial yang ada dalam masyarakat.

Nilai dan Norma Sosial


1. Pengertian Nilai Sosial
Nilai merupakan sesuatu yang diperoleh melalui proses yaitu terbentuk dari apa yang benar, pantas, dan luhur untuk dikerjakan dan diperhatikan yang berstfat subyektif. Selain itu nilai dapat pula didefinisikan sebagai ukuran, harga, perbandingan, dan kadar. Tolok ukur nilai sosial adalah daya guna fungsional suatu nilai dan kesungguhan penghargaan, penerimaan, atau pengakuan yang diberikan oleh seluruh atau sebagian besar masyarakat terhadap nilai tersebut. Secara sosiologis, nilai atau value merupakan suatu ukuran, patokan, anggapan, dan keyakinan yang dianggap benar atau salah, baik atau tidak, pantas tidak pantas yang berguna bagi seseorang.

2. Jenis Nilai Sosial       
Nilai sosial dalam kehidupan masyarakat, menurut Notonegoro dibagi menjadi tiga macam yaitu :
a. Nilai material
Nilai material merupakan segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia. Lakukan pengamatan mengenai bentuk nilai material tersebut di lingkungan anda.

b. Nilai vital
Nilai vital adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas hidup manusia.

c. Nilai kerokhanian
Nilai kerokhanian adalah segala sesuatu yang berguna bagi kebutuhan rokhani manusia. Nilai rohani dapat dibedakan atas :
1) Nilai kebenaran/ kenyataan
Nilai kebenaran atau kenyataan adalah nilai yang bersumber dari akal sehat manusia yaitu dengan menggunakan rasio, budi dan cipta manusia.
2) Nilai keindahan
Nilai keindahan merupakan nilai kehidupan yang bersumber pada perasaan manusia atau nilai estetika.
3) Nilai moral atau kebaikan
Nilai moral yaitu nilai yang bersumber pada unsur kehendak dan kemauan manusia yaitu aspek karsa dan etika.
4) Nilai religius
Nilai religius merupakan nilai kehidupan yang bersumber dari wahyu Tuhan dan bersifat mutlak dan abadi.

Walter G. Everett mengemukakan bahwa nilai sosial dapat dibedakan menjadi lima bagian yang meliputi :
a. Nilai ekonomi
Nilai ekonomi atau economic values merupakan nilai yang berhubungan dengan sistem ekonomi. Perekonomian masyarakat yang selalu berubah, berakibat nilai ekonomi akan mengikuti harga pasar.

b. Nilai rekreasi
Nilai rekreasi atau recreation values adalah nilai kehidupan dalam masyarakat yang meliputi berbagai permainan di waktu senggang, sehingga dapat memberikan sumbangan untuk mensejahterakan kehidupan manusia serta memberikan kesegaran jasmani dan rokhaninya.

c. Nilai perserikatan
Nilai perserikatan atau association values dapat diuraikan sebagai nilai kehidupan yang meliputi berbagai bentuk perserikatan manusia. Dari tingkat kehidupan keluarga hingga tingkat internasional.

d. Nilai-nilai watak
Nilai watak atau character values merupakan nilai kehidupan sosial yang meliputi seluruh tantangan serta kesalahan pribadi dan sosial, termasuk didalamnya keadilan, toleransi, suka menolong, dan sebagainya.

e. Nilai kejasmanian
Nilai kejasmanian atau bodily value merupakan nilai kehidupan sosial yang meliputi nilai-nilai pengetahuan dan pencarian kebenaran.

Selain tersebut di atas, nilai sosial dapat pula dibedakan menjadi dua bagian atas dasar ciri yang meliputi :
a. Nilai yang terencanakan
Nilai yang terencanakan atau mendarah daging (internalized) merupakan nilai sosial yang telah menjadi kepribadian bawah sadar. Dengan kata lain, mendorong manusia mengadakan tindakan tanpa berpikir lagi. Pelanggaran terhadap nilai sosial ini memiliki akibat perasaan malu atau bersalah yang mendalam dan sukar dihilangkan.

b. Nilai yang dominan
Nilai yang dominan merupakan nilai yang dianggap lebih penting dibanding nilai lainnya. Ukuran yang digunakan untuk menentukan dominan atau tidaknya nilai sosial didasarkan pada pertimbangan :
1) Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut.
2) Lamanya nilai tersebut dirasakan oleh anggota kelompok/ masyarakat.
3) Tingginya usaha untuk mempertahankan nilai sosial.
4) Tingginya kedudukan orang yang akan membawakan nilai tersebut.

3. Ciri-Ciri Nilai Sosial
Adapun nilai sosial dalam masyarakat memiliki ciri sebagai berikut :
a. Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi di antara anggota masyarakat. Nilai tercipta secara sosial, bukan bawaan sejak lahir atau secara biologis.
b. Nilai dapat diteruskan dan ditularkan dari satu orang/ kelompok ke orang/ kelompok lain melalui berbagai macam proses sosial.
c. Nilai sosial diperoleh, dicapai, dan dijadikan milik sendiri melalui proses belajar (sosialisasi) yang berlangsung sejak masa kanak-kanak dalam suatu keluarga.
d. Nilai sosial memuaskan manusia dan memiliki peranan dalam usaha pemenuhan kebutuhan sosial. Nilai sosial yang telah disetujui dan telah diterima secara sosial menjadi dasar bagi tindakan dan tingkah laku, baik secara pribadi, kelompok maupun masyarakat secara keseluruhan.
e. Nilai sosial dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dalam masyarakat, baik secara positif maupun negatif.

4. Fungsi Nilai Sosial
Nilai sosial mempunyai fungsi umum sebagai berikut :
a. Sebagai faktor pendorong dan sekaligus menuntun manusia untuk berbuat baik.
b. Sebagai petunjuk arah dari cara berpikir, bertindak, berperasaan serta, panduan dalam menentukan pilihan.
c. Sebagai benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat.
d. Sebagai alat solidaritas atau pemersatu kelompok atau masyarakat.
e. Sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan pengikat tertentu.

5. Pengertian Norma Sosial
Norma dapat dikatakan sebagai wujud dari nilai sosial. Norma dibangun di atas nilai dan diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Norma merupakan petunjuk untuk hidup yang berisi perintah atau larangan agar manusia berperilaku sesuai dengan aturan atau norma, sehingga tercipta ketertiban dan kedamaian dalam kehidupan bersama dalam masyarakat.
Adapun ciri-ciri norma sosial adalah :
a. Umumnya tidak tertulis (lisan).
b. Hasil dari kesepakatan masyarakat.
c. Warga masyarakat sebagai pendukung sangat mentaatinya.
d. Apabila norma dilanggar, anggota masyarakat harus menghadapi sanksinya.
e. Norma sosial kadang-kadang bisa menyesuaikan perubahan sosial, sehingga norma sosial bisa mengalami perubahan.

6. Jenis-jenis Norma Sosial
Ditinjau dari berat ringannya sanksi atau kekuatan mengikatnya, norma dibedakan :
a. Norma cara (usage)
Usage merupakan aturan yang mengatur bagaimana seseorang atau sekelompok orang bertindak, misal aturan dalam cara makan, berjalan, berbicara dan sebagainya.

b. Norma kebiasaan (folkways)
Norma kebiasaan memiliki fungsi untuk mengatur segala bentuk perbuatan manusia yang dilakukan secara berulang-ulang.

c. Norma tata kelakuan (mores)
Norma tata kelakuan atau mores merupakan norma yang mengatur bagaimana seseorang berperilaku dan bertindak dalam masyarakat. Cara berperilaku yang diterima adalah kebiasaan yang diterima dan dianggap baik oleh sebagian besar dalam masyarakat. Misal tidak boleh atau larangan berjudi, minum minuman keras, berzina, dan sebagainya.

d. Norma adat (custom)
Norma adat mengatur mengenai tata kelakuan yang kekal dalam masyarakat dengan pola perilaku masyarakat. Pelanggaran norma ini diberi sanksi berupa dikucilkan atau dikeluarkan dari adat.

e. Norma hukum (laws)
Norma hukum merupakan tata kelakuan yang bersumber dari perundang-undangan. Dengan kata lain, norma hukum sebagai aturan yang paling tegas dan bersifat mengikat dan memaksa. Sanksi yang diperoleh juga paling berat. Berat ringannya tergantung pada jenis pelanggarannya, misal pidana, penjara, hukuman mati, hukuman seumur hidup, dan sebagainya.

Ditinjau dari sumbernya, norma sosial dapat dibedakan atas :
a. Norma agama
Norma agama adalah ketentuan mutlak yang berasal dari Tuhan yang diwujudkan dalam bentuk agama.

b. Norma kesusilaan
Norma kesusilaan berasal dari hati nurani atau akhlak sendiri mengenai apa yang baik dan apa yang buruk.

c. Norma kesopanan
Norma kesopanan merupakan norma yang berasal dari interaksi sosial dalam masyarakat.

d. Norma hukum
Norma hukum merupakan petunjuk dan ketentuan yang berasal dari ketentuan tertulis yang berlaku dan bersumber pada kitab undang-undang negara.

Secara umum, norma sosial dibedakan pula atas :
a. Norma resmi (formal)
Norma resmi atau formal merupakan patokan yang dirumuskan dan diwajibkan secara jelas dan tegas oleh pihak berwenang kepada semua warga masyarakat, contoh norma hukum.

b. Norma tidak resmi (nonformal)
Norma tidak resmi atau non formal adalah patokan yang dirumuskan secara tidak jelas dan pelaksanaannya tidak diwajibkan bagi warga masyarakat yang bersangkutan.

7. Keteraturan Sosial Dalam Masyarakat
Keteraturan sosial merupakan kondisi dinamis dari masyarakat, dimana sendi-sendi kehidupan bermasyarakat berjalan secara tertib dan teratur. Sehingga tujuan kehidupan bermasyarakat dapat dicapai secara berdaya guna dan berhasil guna.

Kondisi dinamis adalah suatu kondisi masyarakat yang sedemikian rupa tertib dan teratur, sehingga mampu menangkal segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar lingkungan masyarakatnya. Kondisi dinamis terwujud sebagai akibat suatu sistem pengendalian sosial atau kontrol sosial yang didasari oleh seperangkat sistem nilai dan norma sosial yang disepakati dan ditaati oleh seluruh anggota masyarakat secara konskuen. Keteraturan sosial dapat tercipta apabila ada unsur-unsur berikut:
1. Tertib sosial
Masyarakat dikatakan telah mencapai kondisi tertib bila terdapat keselarasan antara tindakan anggota masyarakat dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.

2. Order
Order dalam keseharian diartikan sebagai perintah atau pesanan. Sedangkan dalam sosiologi, order merupakan suatu sistem norma dan nilai yang akan diakui dan dipatuhi oleh masyarakat. Sehingga order sosial (social order) adalah suatu sistem atau tatanan norma dan nilai sosial yang diakui dan dipatuhi oleh masyarakat.

3. Keajegan
Keajegan adalah suatu keadaan yang memperlihatkan kondisi keteraturan sosial yang tetap dan berlangsung terus menerus. Misal setiap hari siswa masuk ke sekolah memakai seragam.

4. Pola
Pola menekankan atau lebih berkaitan dengan bentuk suatu interaksi sosial. Sedangkan keajegan lebih menonjolkan suatu ciri sifat kelangsungan yang tetap (ajeg) pada suatu interaksi sosial. Misal kalangan atas menggunakan waktu luang dengan belanja ke butik terkenal.

Teori dan Pengetahuan Sosiologi


1. Pengertian SosiologiSebagai ilmu pengetahuan, Sosiologi termasuk rumpun ilmu-ilmu sosial. Auguste Comte telah merintis munculnya sosiologi. Pendekatan-pendekatan  umum untuk mempelajari masyarakat harus melalui urutan tertentu yang kemudian sampai pada tahap akhir yaitu tahap ilmiah. Sehingga Auguste Comte disebut “Bapak Sosiologi” karena ahli yang pertama kali menggunakan istilah sosiologi dan mengkaji sosiologi secara sistematis. Sehingga sosiologi dapat melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad XIX (1856).

Secara etimologis, sosiologi berasal dari kata socius dan logos. Socius (Latin) artinya teman, sedangkan logos (Yunani) artinya perkataan atau pembicaraan. Sehingga sosiologi diartikan sebagai membicarakan, memperbincangkan teman pergaulan.  Atau sosiologi merupakan ilmu yang membahas tentang hubungan antara manusia satu dengan manusia lain dalam hidup bermasyarakat. Adapun pendapat para ahli tentang pengertian sosiologi dapat diuraikan berikut.

a. Roucek and Warren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok-kelompok.

b. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff
Sosiologi merupakan penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.

c. Pitirim A. Sorokin
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang:
1) Hubungan maupun pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non sosial seperti pengaruh iklim terhadap watak manusia dan pengaruh kesuburan tanah terhadap pola migrasi penduduk.
2) Ciri-ciri umum dari semua jenis gejala atau fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat.
3) Hubungan maupun pengaruh timbal balik antara berbagai gejala sosial.

d. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu norma sosial, lembaga sosial, kelompok sosial dan lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama misal pengaruh ekonomi terhadap politik. Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur sosial.

e. JAA. Van Doorn dan CJ. Lammars
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

f. Auguste Comte
Sosiologi adalah ilmu yang terutama mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya.

g. Van der Zanden
Sosiologi merupakan studi ilmiah tentang interaksi antar manusia.

h. GA. Lundberg
GA. Lundberg dalam buku “Sociology” menyebutkan “Sociology is the social behavior of induvidual and groups” atau sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku sosial orang seorang atau kelompok.

i. Bierens de Haan
De Haan dalam buku “Sosiologie, ontwikkeling en methode” menyatakan sosiologi adalah ilmu tentang pergaulan hidup manusia.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan atau interaksi manusia dalam masyarakat. Dengan kata lian sosiologi merupakan ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengna manusia lain dalam kelompok dan produk yang timbul dari interaksi tersebut, seperti nilai, norma, dan kebiasaan yang dianut oleh kelompok atau masyarakat.

2. Sifat dan Hakekat Sosiologia. Sosiologi termasuk rumpun ilmu-ilmu sosial yang bersangkut paut dengan gejala-gejala kemasyarakatan.
b. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang kategoris, artinya membatasi diri dengan apa yang terjadi dan bukan pada apa yang seharusnya terjadi.
c. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni, karena bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak, bukan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai.
d. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan secara abstrak, artinya yang diperhatikan adalah pola dan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
e. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum.Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip atau hukum umum dari interaksi antar manusia dan perihal sifat, hakekat, isi dan struktur masyarakat manusia.
f. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang rasional, terkait dengan metode yang dipergunakannya.
g. Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan yang umum dan bukan ilmu pengetahuan yang khusus. Artinya sosiologi mengamati dan mempelajari gejala-gejala umum yang ada pada setiap interaksi dalam masyarakat secara empiris.

3. Ciri-ciri SosiologiMenurut Harry M. Johnson, seperti dikutip Soerjono Soekanto, sosiologi sebagai ilmu memiliki ciri-ciri berikut:
a. Bersifat empiris yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulatif.
b. Bersifat teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkrit di lapangan dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur yang tersusun sencara logis dan bertujuan  menjalankan hubungan sebab akibat.
c. Bersifat kumulatif, yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus.
d. Bersifat non etis, dalam arti yang dipersoalkan dalam sosiologi bukanlah baik buruknya fakta tertentu, tetapi menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

Menurut pandangan sosiologi, perencanaan sosial merupakan alat untuk mengetahui perkembangan masyarakat, sehingga hal ini dapat bermanfaat dalam menghimpun kekuatan sosial dalam rangka menciptakan ketertiban masyarakat.

Sosiologi memiliki manfaat sebagai berikut :
a. Sosiologi dapat memberikan pengetahuan tentang pola interaksi yang terjadi dalam masyarakat.
b. Sosiologi dapat membantu masyarakat dalam mengontrol atau mengendalikan tindakan dan perilaku anggota dalam kehidupan masyarakat.
c. Sosiologi mampu mengkaji status dan peranan anggota masyarakat, serta dapat menilai masyarakat atau budaya lain.
d. Anggota masyarakat makin dapat memahami nilai, norma, tradisi dan keyakinan yang dianut masyarkat lain, serta memahami perbedaan yang ada.
e. Sebagai generasi penerus, dapat membuat lebih tanggap, kritis, dan rasional dalam menghadapi gejala sosial dalam masyarakat yang makin kompleks.

4. Metode SosiologiDalam meneliti dan berusaha memahami kehidupan dalam masyarakat diperlukan metode yang lebih tepat. Menurut Abu Ahmadi, ada beberapa metode yang digunakan dalam sosiologi yaitu:
a. Historical method
Historical methode atau metode sejarah merupakan suatu cara penelusuran terhadap kebudayaan serta struktur masyarakat yang telah lampau, kemudian diambil contohnya untuk masa mendatang.

b. Comparative method
Comparative method atau metode komparasi yang berusaha membandingkan satu masyarakat dengan masyarakat lain kelompok atau satu kebudayaan lain, sehingga akan diperoleh garis-garis persamaan yang berlaku umum.

c. Statistical method
Statistical method atau metode statistik dilakukan untuk mengukur gejala sosial yang tampak secara kumulatif kemudian diinterpretasikan ke dalam pemahaman umum.

d. Case study method
Case study method atau metode studi kasus dilakukan untuk menyelidiki peristiwa yang terjadi di sekitar kelompok masyarakat,maupun lembaga tertentu untuk mendapatkan garis-garis pokok dari peristiwa itu (metode survey).

Sedangkan menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, metode yang digunakan yaitu:
a. Studi cross sectional
Studi cross sectional adalah studi yang meliputi suatu daerah pengamatan yang luas dalam jangka waktu tertentu.

b. Studi longitudinal
Studi longitudinal adalah studi yang berlangsung sepanjang waktu yang menggambarkan suatu kecenderungan atau serangkaian “observasi sebelum dan sesudah”.          
           
c. Studi ex post facto
Studi ex post facto atau studi studi longitudinal yang bersifat retrospektif adalah studi yang berlangsung sepanjang waktu, namun bekerja mundur dengan mempergunakan data yang telah dicatat.

d. Eksperimen laboratorium
Eksperimen laboratorium yang menggunakan orang untuk diteliti, orang direkrut, dikumpulkan dan mungkin dibayar selama eksperimen berlangsung.

e. Eksperimen lapangan
Dalam eksperimen lapangan, riset dilakukan di luar laboratorium, bukan di dalam.

f. Penelitian pengamatan
Dalam studi pengamatan, peneliti mengamati terjadinya sesuatu atau kejadian yang telah terjadi tanpa dibuat-buat.

Untuk mempelajari lebih lanjut kehidupan masyarakat, maka dalam Sosiologi sebagai ilmu sosial perlu diketahui beberapa konsep dasar. Ilmu sosial atau science (sains) menurut Soerjono Soekanto, adalah pengetahuan (knowledge) yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan mana selalu dapat diperiksa dan ditelaah/ dikontrol dengan kritis oleh setiap orang lain yang ingin mengetahuinya. Adapun beberapa konsep dasar yang perlu diketahui seorang peneliti adalah :

1. Obyek studi
Obyek studi merupakan sesuatu yang menjadi pusat perhatian dan bahan kajian dari ilmu pengetahuan. Obyek studi dibedakan atas obyek material dan obyek formal. Obyek material yaitu sesuatu yang menjadi bahan kajian beberapa disiplin ilmu dan sifatnya masih umum, misal manusia. Sedangkan obyek formal yaitu aspek khusus dari obyek material yang diungkapkan suatu disiplin ilmu tertentu.

2. Sistematik
Sistematik berarti ilmu tersebut harus disusun menurut aturan ilmiah sehingga merupakan perpaduan yang harmonis sebagai kebulatan yang teratur.

3. Metodologi
Metodologi yaitu cara-cara tertentu untuk mencapai kesesuaian ilmiah, yaitu adanya persesuaian antara yang diungkapkan dengan kenyataan yang terdapat pada obyeknya.

4. Universal
Universal berarti kebenaran yang diungkapkan oleh ilmu itu bukanlah mengenai sesuatu yang individual, melainkan harus berlaku secara umum.

Penelitian dalam ilmu sosial merupakan suatu proses yang terus menerus, kritis dan terorganisir untuk mengadakan analisis dan memberikan interpretasi atas gejala sosial yang memiliki hubungan yang saling terkait. Adapun ciri penelitian sosial adalah :
a. Obyek penelitian sosial adalah manusia dan perilakunya yang selalu berubah
b. Belum dapat diteliti secara eksak, tuntas dan mendalam

Metode adalah cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu. Metode dalam penelitian memiliki beberapa ciri pokok yaitu:
a. Ada permasalahan yang akan dikaji atau diteliti
b. Ada hipotesis yaitu kesimpulan yang bersifat sementara, yang harus dibuktikan lebih dahulu kebenarannya. Hipotesis merupakan jawaban atas permasalahan yang akan dikaji melalui teori yang ada.
c. Ada usulan mengenai cara kerja atau cara penyelesaian permasalahan dan hipotesis yang ada.

Dalam metode penelitian ilmiah, seperti dikemukakan Paul B. Horton dan CL. Hunt, ada beberapa langkah yang mudah disusun, yaitu:
a. Merumuskan masalah
b. Meninjau kepustakaan
c. Merumuskan hipotesis
d. Merencanakan desain penelitian
e. Mengumpulkan data
f. Menganalisis data
g. Menarik kesimpulan
h. Mengulang penelaahan

Adapun dalam memahami ilmu sosial perlu penegasan dan pemahaman terhadap konsep metodologi ilmu sosial yang meliputi:
a. kenyataan
Kenyataan adalah sesuatu yang benar-benar ada dan dapat ditangkap oleh panca indra, misal lingkungan alam, masyarakat desa.
         
b. informasi
Informasi merupakan keterangan yang dapat mendukung dan melengkapi data yang diperlukan dalam suatu penelitian ilmu sosial. Informasi dapat diperoleh melalui interview, angket atau kuesener.
             
c. fakta
Fakta biasanya berkaitan dengan peristiwa yang benar-benar terjadi. Fakta yang diperlukan dalam penelitian sosial harus ditulis dengan obyektif.
         
d. data
Data adalah segala sesuatu yang ada dalam obyek penelitian yang akan digunakan untuk membuktikan suatu hipotesis. Data dapat berupa kenyataan dan informasi.
         
e. masalah
Masalah adalah persoalan pokok yang ada dalam obyek penelitian yang akan dicari jalan pemecahannya berdasarkan hipotesis dan metodologi yang dipilih.

f. asumsi
Asumsi adalah anggapan dasar atau dugaan terhadap permasalahan yang ada dalam obyek penelitian.
          
g. proposisi
Proposisi atau pernyataan adalah pernyataan yang digunakan untuk merumuskan bagian yang penting dalam penelitian atau dalam penyusunan laporan. Pernyataan yang digunakan cukup singkat, jelas, padat dan tidak menimbulkan penafsiran ganda.
          
h. teori
Teori adalah perumusan ilmiah tentang suatu masalah yang diperoleh dari hasil pengujian hipotesis secara benar dan telah diakui oleh masyarakat luas sebagai kebenaran yang universal.

i. merumuskan hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan yang belum final atau kesimpulan sementara yang masih harus diuji kebenarannya. Sering diartikan sebagai dugaan pemecahan masalah yang bersifat sementara.
          
j. bukti/ evidence
Bukti adalah bukti terhadap kebenaran, atau ketidakbenaran suatu hipotesis setelah diuji dengan sejumlah data dengan menggunakan metodologi yang tepat.


a. Metode Kualitatif
Metode analisis yang memakai bahan/ data/ informasi yang sukar diukur dengan angka/ ukuran eksak, tetapi lebih bersifat deskriptif.
1) Metode histories
Metode histories merupakan metode pengamatan yang menganalisis peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum.

2) Metode komparatif
Metode kompataratif merupakan metode pengamatan dengan cara membandingkan antara berbagai masyarakat dan bidangnya untuk mendapatkan persamaan dan perbedaan sebagai petunjuk dalam suatu masyarakat

3) Metode studi kasus
Metode studi kasus merupakan metode analisis yang memfokuskan diri untuk mempelajari sedalam-dalamnya salah satu gejala nyata (kasus ) dalam kehidupan masyarakat.

4) Metode Eksperimen
Metode eksperimen merupakan suatu cara untuk mengetahui pengaruh perubahan pola kehidupan masyarakat melalui percobaan-percobaan pada kelompok sosial tertentu dan kelompok lain sebagai pengendali.

5) Metode Filosofis
Metode filosofis berupaya mengatasi masalah sosial melalui perenungan dan pemikiran yang mendalam, terarah, dan mendasar yang bertumpu pada akar budaya masyarakat.

b. Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif merupakan metode analisis yang memakai angka/ ukuran eksak, melalui pengolahan data, dan pengorganisasian data. Data berupa angka dan mudah diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori.