Tuesday, June 6, 2017

Dampak Kolonialisme di Indonesia_Sebuah Catatan

Pelaksanaan kolonialisme secara umum membawa dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat pribumi. Akibat kolonialisme ialah hampir semua negara Asia Afrika pada abad XVIII dan XIX kehilangan kemerdekaan politik dan kebebasan perekonomiannya. Disamping itu juga bidang kebudayaan nampak pengaruh yang merugikan masyarakat pribumi (Roeslan Abdulgani. t.th).

Pelaksanaan kolonialisme di Indonesia dapat dilihat dari ciri-ciri pokok imperialisme Belanda yang meliputi :
1.membeda-bedakan warna kulit
2.menjadikan tanah jajahan sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi negara induk.
3.perbaikan sosial sedikit.
4.jarak sosial yang jauh antara bangsa terjajah dengan penjajah.

Suatu masyarakat kolonial seperti dikatakan Sartono Kartodirdjo (1990); memiliki ciri adanya diskriminasi ras putih dan berwarna dan adanya pembatasan-pembatasan dalam pergaulan sosial diantara ras. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat kolonial ini tidak terjadi kontak sosial dan terjadi pemisahan fisik yang cukup menyolok antara penjajah dan terjajah.
Tampak jelas dari kalangan pribumi dilarang keras memasuki berbagai perkumpulan, lapangan olahraga dan daerah tempat tinggal orang Belanda. Orang Eropa di kota memiliki daerah tempat tinggal khusus, yang tentunya di bagian kota yang baik.

Masyarakat kolonial dengan dua kekuatan yang berlawanan kepentingan memunculkan konflik yang tetap dalam berbagai segi kehidupan. Adanya diskriminasi memperkuat konflik yang ada. Situasi kolonial tersebut merupakan tantangan bagi rakyat di daerah jajahan untuk berusaha mempertahankan diri dan untuk mengubah situasi yang ada.

Dalam hal ini, bangsa Indonesia tidak tinggal diam, sehingga memunculkan perlawanan di berbagai daerah, misal perlawanan sultan Agung, Diponegoro, Aceh, Hasannudin, dan sebagainya. Adanya perlawanan tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak dapat ditundukkan sepenuhnya dan ditindas bangsa lain.

Pada dasarnya perlawanan bangsa Indonesia (dan bangsa Asia Afrika lainnya) dilakukan dengan cara perlawanan Zelotisme yaitu dengan menolak segala pengaruh asing dan mengisolasi diri. Disamping itu juga Herodianisme yaitu menentang dengan mengoper segala cara barat dan menggunakannya untuk memperkuat diri (lihat CST. Kansil dan Julianto, 1986).

Adanya perlawanan di berbagai daerah, ternyata ditanggapi kolonial Belanda dengan berusaha menumpas perlawanan secepat mungkin. Hal ini nampak dari pernyataan Soekarno (1964), semua keadaan dalam negeri djadjahan, jang bertentangan dengan kepentingannja fihak itu, jang merugikan akan kepentingannja fihak itu segera mendapat perlawanan daripadanja.


No comments:

Post a Comment